Kamis, 09 Februari 2012

Raunganku

Diposting oleh Anonim di 15.06 0 komentar
Ya Allah..
Aku tahu betapa buruknya aku,
Betapa kotor, hina, rapuhnya aku
Betapa kecil aku di mata-Mu
Betapa miskin, tak punya apa-apa,
Karena ini semua milik-Mu, titipan dari-Mu

Ya Allah..
Engkau pasti tahu
Bahwa yang aku punya hanyalah dosa
Dosa-dosaku kepada-Mu yang menjulang tinggi
Dosa kepada kedua orang tuaku, saudara-saudaraku, sahabat, tetangga
Yang tak dapat dihitung banyaknya

Ya Allah..
Kini Kau memberikan aku sebuah ujian
Berupa sakit ini ya Allah
Penyakit yang aku asing dengannya
Sakit yang membuatku menangis
Sakit yang selalu membuat ku berkecil hati
Sakit yang membuatku kerap menjerit
Merepotkan orang-orang di sekitarku
Membuat mereka mengurusiku yang sebenarnya sudah bisa mandiri
Sakit yang amat sakit rasanya

Ya Allah..
Dua tahun lalu Kau datangkan sakit itu
Selama itu aku hanya menangis
Meraung
Menjerit

Tapi mungkin aku terlalu sombong
Tahu bahwa sakit itu telah diambil
Mungkin aku terlalu sombong
Aku merasa sakit itu sudah hilang
Tapi ternyata,
Penyakit itu datang lagi

Dan kini aku menangis lagi
Air mataku menetes lagi
Hidungku sesenggukan
Baru kuingat lagi pada Kau
Betapa aku sombong melupakan penyakit yang pernah datang
Betapa aku mengira bahwa aku kan selalu sehat
Tapi Allah Maha Kuasa
Maha Berkehendak
Kini Ia menghendakiku untuk kembali merasakan ini
Mungkin Allah rindu pada tangisku setiap malam
Pada rintihanku menyebut nama-Nya ketika kambuh
Pada erangan Allah-ku yang kuteriakkan saat sakit luar biasa itu
Aku ingat, ketika sakit itu datang, bibirku bergetar menyebut nama-Mu
Berdzikir kepada-Mu
Bahkan dalam setiap nafasku kusebut nama-Mu
Mungkin Allah merindukan itu semua
Yang kini jarang kulakukan di saat aku sehat
Mungkin Allah merindukan itu semua
Sehingga mengembalikan penyakit itu lagi padaku
Allah.. Allah.. Allah..

Jika aku mengingat rasa sakit itu dulu
Jujur aku takut
Aku takut merasakan itu lagi
Aku takut aku tak kuat
Aku takut..
Bahkan tak jarang aku meminta mati
Ya, aku yang terlalu kesakitan
Meminta mati jika boleh

Tapi ketika aku ingat,
Apakah kamu sudah siap mati?
Apa kamu punya bekal yang cukup untuk menuju alam selajutnya?
Apa kamu sanggup mati sekarang?

Aku ingat, betapa aku tak punya apa-apa
Aku tak punya apa-apa yang dapat dijadikan bekalku nanti
Ilmu apa? Amalan apa?

Apakah urusanmu di dunia ini sudah kau selesaikan?
Apakah semua sudah beres sehingga kau nerani meminta mati?
Apakah orang-orang sudah merasa puas dengan pekerjaan mu di dunia ini?

Apa yang telah kau beri untuk orang-orang di sekitarmu?
Apa kau telah merasa cukup banyak memberi?
Sehingga kamu berani memnita mati??
Hahh???

Apa kontribusimu di dunia ini?
Apa yang sudah kamu berikan untuk keluargamu?
Untuk teman – temanmu, almamatermu?
Hah? Apa?
Apakah kamu sudah banyak memberi sehingga kamu berani mati?

Apa yang telah kau berikan untuk INDONESIAmu?
Dan yang paling penting,
Apa yang telah kau berikan untuk dakwah, untuk islam, untuk Allah??
Seberapa jauh kau berdakwah?
Menyerukan kebenaran?
Seberapa jauh pengorbananmu untuk islam?
Apakah semua yang lakukan di dunia ini sudah tertuju pada Allah?
Apa yang mau kau persembahkan kepada Allah??
Apakah kau mau menghadapnya dengan tangan kosong?
Ilmu yang menggantung?
Amal yang seadanya??
Hah? Iyaa?
Apakah kau mau mengahadapnya dengan pakaianmu yang kotor itu?
Apa yang kau lakukan di dunia ini cukup sebagai bekal????

Ya Allah..

Tidak..
Aku belum punya apa – apa Allah..
Aku belum punya bekal apa – apa..
Aku.. aku…

Urusanku di dunia ini belum selesai Allah..
Masih banyak yang harus kukerjakan Allah..
Masih banyak hutangku pada orang-orang di sekitarku
Belum sempat aku membalas budi orang tuaku..

Allah..
Jangan ambil nyawaku dulu..
Walau beberapa saat yang lalu aku meminta mati kepada-Mu..

Aku masih ingin bertemu Ramadhan..
Paling tidak tahun depan ya Allah..
Aku ingin mempersiapkan bekalku dulu
Menyelesaikan amanahku
Aku ingin berkontribusi untuk semua..
Berdakwah, berjihad..
Aku masih ingin berjuang di jalan-Mu
Menjunjung islam
Agama-Mu

Ya Allah.. izinkan aku..
Menghadapi sakit ini, menikmati sakit ini,
Melawannya..
Allah berikan aku kekuatan.. Allaaaah...












*jujur, aku menangis ketika mengetik kata demi kata ini

Jumat, 03 Februari 2012

Rabithah

Diposting oleh Anonim di 22.24 0 komentar




Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cinta-Mu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan

menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahaya-Mu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakal pada-Mu
hidupkan dengan ma'rifat-Mu
matikan dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan pembela

Hasil Karya Ku

Diposting oleh Anonim di 11.01 3 komentar
Entah sejak kapan, kayaknya sejak aku kuliah, aku mulai memancarkan potensi dan bakatku di bidang desain grafis, hahaa.. enggak juga ding, itu sebenernya awalnya amang aku suka ngutak atik corel draw, jadi kadang-kadang karena ngga ada orang yang mau bikin pamflet, atau banner dan semacamnya, jadi aku lah yang jadi tumbal suruh bikin begituan kalo ada acara-acara organisasi yang aku ikutin.. bisa disimpulkan, hampir setiap kegiatan, aku disuruh masuk sie pubdekdok (publikasi, dekorasi dan dokumentasi)..
tapi di taun kedua di ranah perkuliahan ini, aku kayaknya udah sedikit terlepas dari yang namanya corel draw, hehe.. aku pingin memperdalam arc view, atau arc gis, sketch up dan semacamnya aja, haha..
nah, jadi aku punya inisiatif buat mamerin beberapa desain pamflet atau semcamnya yang udah aku bikin. kalo kalian yang udah ahli bikin desain musti bilang buatan aku ini biasa aja, malah jelek, hahaa.. tapi daripada ni menuh-menuhin harddisk-ku, mending aku uploadin satu-satu, siapa tau menginspirasi.. :p
Berikut adalah beberapa hasil karyaku yang success di upload, #ups
dari banner, pamflet, desain cover, stiker, sampai jadwal imsakiyah, hahaa.. ^^

Banner Tugas Besar Proses Perencanaan. 
Kata temen-temen, bagus banget. Menjual. Serius, temenku bilang begitu, hehe..

Banner buat acara Olimpiade Mentoring.
Walaupun ini banner datangnya telat (udah setengah main, baru dipajang, hahaaa)
tapi tetep aja, jadi background yang bagus buat foto-foto, haha..

Desain cover tugas besar Proses Perencaan.
Baginilah, tugas besar kalo di Plano, dikemas secantik mungkin :)

Masih lanjutan yang atasnya, ini cover dalamnya..


Desain pamflet Open Recruitment KAMMI Teknik Universitas Diponegoro
Walaupun udah nggak masuk kepengurusan, tetep aja suruh bikin pamflet, ckckck..


Nih jadwal imsakiyah yang alhamdulillah, sukses tersebar di Kota Semarang :)


Pamflet menyambut Bulan Ramadhan dari KAMMI Teknik UNDIP tahun 2011


Stiker Menyambut Ramadhan yang dibagi juga ke sebagian warga Kota Semarang


Kamis, 02 Februari 2012

Penipuan terhadap Tukang Taksi

Diposting oleh Anonim di 22.11 0 komentar
Beberapa minggu yang lalu, ceritanya aku mengembara nih (engga sih, sebenernya biasa aja).. Jadi kebetulan, om ku mau lamaran di Pemalang. Pemalang itu masih di Jawa Tengah, kabupaten di antara Kota Pekalongan dan Kota Tegal. Kalo belum tau juga, buka peta. Sebenarnya momennya pas banget minggu tenang sebelum UAS  tuh.. Jadi sebenernya waktu pas liburan, tapi gara-gara masih ada tanggungan tugas dan kegiatan LPJ suatu organisasi dan semacamnya, jadi aku nggak libur. So, aku putuskan di Pemalang sehari doang dan langsung balik ke Semarang.
Dasar emang sebenernya baru pertama kali ke Pemalang dari Semarang ya (kalo dari Banjarnegara sih udah sering), jadi masih culun, bloon, ngga mudeng turun mana. Nah, sebelumnya aku ceritain dulu orang yang duduk di samping ku. Seorang bapak tua, bisa dibilang juga kakek muda (nah lhoo, bingung kan lu).. Dengan sok kenal, aku nanya ke bapak - bapak itu,
"Bapak turun mana, Pak?" tanyaku dengan gaya mahasiswa cendekia.
Aku lupa bapaknya jawab mana, nggak jelas, dan selain itu aku nggak tahu nama daerahnya.
"Mbak mau kemana?" tanya bapaknya balik.
"Saya mau ke Tembalang, Pak.. Kira - kira turunnya mana ya Pak?"
lagi - lagi bapaknya jawab ngga begitu jelas, dan yang aku dengar cuma, "Oh, kalau enggak, nanti turunnya ikut saya aja berarti mbak.."
Oh, okok, itu suatu pencerahan menurutku yang emang bener-bener buta nggak tau turun mana.. Untung saking begonya, aku ngga salah naik bus yaah.. Tapi waktu itu aku bener-bener ngga ada pikiran jahat sama bapaknya. Padahal dari kata-kata terakhir bapak tersebut adalah nanti turunnya ikut saya aja berarti mbak, kalo dicerna serem juga yah, bisa aja aku bapak-bapak itu turun di tempat sepi dan akhirnya aku ikut turun, lalu aku diculik, oh tidak.. ok cukup, itu cuma khayalan, dan tidak kenyataan. Malahan bapaknya itu (kayaknya harusnya besok - besok aku tanyain namanya kali ya, biar nggak pake kata ganti bapaknya atau bapak-bapak itu) meninggalkan ku sendiri dengan kebingunganku..
Jadi pas bapaknya turun, aku ikutan turun deh, tapi bapak-bapak itu jalannya terlalu cepat, mungin sudah ditunggu istri di rumah, jadi aku yang waktu itu pake gamis bekas kondangan dan sepatu sandal yang agak sakit kalo dipake lama, nggak bisa mengejar bapak itu. Dan aku ditinggal sendiri di tempat yang aku nggak tau dimana, cuma aku tau kalo itu masih di Semarang.
Ternyata di tempat itu sedang dilakukan pembangunan apalah gitu, akhirnya aku tanya kepada bapak - bapak (bapak - bapak ini lein lagi dengan bapak - bapak tadi) yang menggunakan pakaian berwarna jingga dengan topi proyek di atas kepalanya.
"Maaf Pak, mau tanya, kalau mau ke Tembalang itu lewatnya mana ya Pak?" tanyaku dengan tampang memelas tapi tetap innocent.
"Ohh, Tembalang yaa? hmmm.. lewat Dr. Cipto kali mbak.."
Jalan Dr. Cipto lewatnya mana pulaa? mana bapaknya pake kata 'kali' lagi. Meragukan..
"Oh, nggak ada bus ke Tembalang atau Banyumanik lewat sini, Pak?
"Ada kayaknya, Mbak.. Tapi jarang.."
Hmmm.. okelah, walaupun kayaknya, aku bener-bener berharap kayaknya yang dimaksud bapaknya adalah kebenaran 99%.
Oke akhirnya ada sedikit pencerahan. Aku menunggu bus di jalan itu.. Tapi lama ah, mending sambil jalan kaki, barangkali ada sesuatu yang lucu, atau unik, atau dapat inspirasi.. akhirnya aku berjalan kaki menyusuri jalan Pamularsih (itu aku tau dari plang di jalan) sampai nggak kerasa udah hampir 2 kiloan.. mana posisiku saat itu bener-bener enggak banget. udah kucel, bau keringat, udah mau pingsan (serius nih) habis pagi belum makan, ditambah matahari Semarang waktu itu lagi puanas banget, tambah lagi, tasku yang berat karena diisi laptop dan oleh-oleh, dan tangan kanan ku nyangking tas plastik berisi mangga yang sengaja dipetik simbah buat aku bawa ke Semarang..
Akhirnya, aku bener-bener nggak kuat. aku duduk di trotoar waktu itu. gilak, kayak orang gilak banget waktu itu.. Dan akhirnya aku berinisiatif untuk menelepon taksi.. Sebenarnya ide ini sudah muncul sejak tadi, tapi aku berpikir waktu itu, kalo sebenernya ada bus tembalang lewat sini, ngapain mahal-mahal naik taksi, iya ngga?? tapi kenyataannya setelah jalan 2 km belum juga melihat tanda-tanda kedatangan bus tersebut.
ok, kubuka hape Nokia bekas babe, kubuka contact tulisan burung biru (silakan dibahasa inggriskan).
"Halo, dengan taksi burung biru, ada yang bisa saya bantu?" suara mbak operator.
"Iya mbak, saya pesen taksi satu ada mbak?" suaraku udah bukan sebagai mahasiswa cendekia lagi sekarang.
"Baik, sebelumnya bisa sebutkan nomor telepon mbak?" eh, ni ngapain pake nanya-nanya nomer hapeku, aku mau minta taksi malah minta nomer hape, emangnya mbaknya mau ngapain pake nomer hapeku.
"Nomer hape saya mbak? buat apa?"
"Iya mba, berapa nomernya?"
ini kayaknya aku yang nggak gaul yaa? aduh maklum sih, naik taksi cuma beberpa kali doang, biasanya mah naik mobil jemputan warn akuning itu (angkot maksudnya..)
akhirnya aku sebutkan deh nomor hapeku, daripada mbaknya nyolot mulu, nanti aku ngga nyamope-nyampe tembalang lagi..
"baik mba, kosong lapan atu tiga sembila atu... sekian sekian.." jawabku.
"ok, baik dengan mbak Inung yaa.. Posisi mbak inung sekarang dimana??" tanya operator tersebut..
Wuju buneeng, darimana dia tau namaku??? jangan-jangan selama ini banyak taksi berkeliaran ngebuntutin aku, atau emang aku udah jadi public figure ya di semarang ini? hmm.. whatever lah, resiko orang populer..
"Iya mba, saya posisi di depan Alfam*rt Pamularsih"
"Alfam*rt yang sebelah mana mbak?"
"Yang di jalan Pamularsih embaaaak.." gilak nih ribet banget dah.
"Jalan Pamularsih itu panjang mbak, mbak Inung yang sebelah mananya??"
Gilak, mana gue tauuu, gue lagi tersesat wooyy.. jalan Pamularsih aja baru denger niih..
"Aduh mbaak, saya ngga tau ni di sebelah mana.. pokoknya saya di depan alfam*rt, trus sebelahnya ada rumah mkan padang, hehe.. nggak tau nih mbaak..."
Mbak operator membisu di balik daun telepon, entah dia lagi bingung mencerna kata-kataku, atau sedang membisu tercengang mendengar suaraku yang sayu, atau sedang ngetawain karena aku kayak orang ilang? Sebelum mbaknya bersuara aku langsung jujur deh sama mbak nya, sekalian curhat..
"Jadi gini mbaaaak, saya tersesaaaat.. saya habis turun dari bis, jalan deh sampe sini, nanya orang ngga pada tau mbaaaak.. saya ngga tau saya dimanaa, hiks,.. tolong saya mbaaak... hiks.. sroot.." aku udah jujur jujur gitu ya, eeh, mbak operator malah ketawa, ckck.. pelis mbaaaak, jangan ketawaaa, heleeep me.. suara hati kecilku meraung-raung..
"Ok, gini mbak inung, sekarang mbak pakai baju apa?"
"Saya pakai baju biru, jaket hitam, jilbab bitu, tasnya cokelat.." suaraku udah parau banget, pasrah.
"Baik mba, nanti armada kami, menuju ke pamularsih, mencari posisi mba Inung."
"Oke mbak terimakasih..hiks.."
Akhirnya dengan terpaksa aku pencet tombol bergambar telepon merah. mati. Yaah, saat itu aku tinggal nunggu taksi aja deh, sambil duduk di trotoar, moga-moga nggak gantian taksinya yang tersesat..
Tiba-tiba saat aku lagi menunggu taksi, muncul pangeran berkuda putih dari ujung jalan.. hah, itu NUGROHO.. yaa benar itu NUGROHO.. oh NUGROHO, you're my hero.. #mataberbinarbinar
ya Allah, alhamdulillah.. dateng juga itu bus. Yup, NUGROHO itu nama bus ke Tembalang atau Banyumanik yang berwarna putih bersih :)
Awalnya aku bingung, tapi kan aku udah pesen taksi.. hmmm, tapi tadi mbak operator belum ngasih nomor armadanya juga, jadi itu taksi masih ngawang-ngawang.. hmmm, daripada nggak jelas, mending aku naik bus aja yang udah di depan mata.
hmmm, maap ya burung biru, kali ini aku lebih memilih nugroho bukan kamu. sekali lagi maaf, huuftt..
Akhirnya aku duduk dengan tenang, bersandar, dalam hati, akhirnya pulang jugaa..
Jleb, tiba-tiba aku tersadar, nanti kalau taksi burung biru itu mencariku gimanaa? aduh gimana dong.
Akhirnya hapeku, aku matikan, aku takut mbak operator burung biru meneleponku, bagaimana jawabanku, masa iya kau jawab, maaf mbaak, saya memilih nugroho, ah enggak banget.. yaudah akhirnya aku matikan hapeku. selesai.
tapi sejujurnya aku belum tenang, sama aja aku ngerjain taksi burung biru dong. mana namaku udah tercatat lagi.. blacklist nih aku dari taksi burung biru, haha..
maap deh mbak, mas, bukan sengaja mau ngerjain atau mau nipu, saya cuma mempertimbangkan mana yang terbaik untuk hidup saya, hiks, #eeaa
setelah aku cerita ke banyak orang tentang peristiwa ini, semua orang yang aku ceritain pasti jawab gini :
"Ya Allah inung, tega banget sih.." atau
"hahaa, parah banget ik kowe ki" atau
"ih., inung ngawur banget yakin.." dan sebagainya dan semacamnya..
Baru setelah itu aku sadar, gilak, aku jahat yaa.. huaaaa,, Allaah maafin aku pliiis, mbak operator dan seluruh karyawan taksi burung biruu, aku minta maaf yaaa, hiks..
semoga masih ada yang mau temenan ama gw yang sudah melakukan tindak kejahatan ini.. hiks #lebaybgtsumpah
oke, akhirnya, untuk menghapus kenangan itu, aku hapus deh nomor burung biru, heheee..

---

Dan pada suatu saat, aku berada di rumah sakit, menolong seorang sahabat yang baru saja mengalami kecelakaan ringan.
"Dek, ini biar naik taksi aja kali yaah.. telpon taksi dong dek.." perintah mbak seniorku.
Aku langsung menelepon taksi yang nomornya ada di contact hapeku,
"Halo, selamat siang, dengan taksi new atl*s, ada yang bisa dibantu..."

Senin, 23 Januari 2012

Perubahan Itu Indah

Diposting oleh Anonim di 20.52 0 komentar

Pukul 08.00 waktu jam tangan ku. Ku langkahkan kakiku menuruni tangga kecil dari dalam bis menuju ke aspal hitam di kota impianku. Kuucapkan terima kasih pada bus yang aku tumpangi selama kira-kira 4-5 jam lamanya. Tentunya dalam hati, tak mungkin lah aku mengucapkan terima kasih pada benda mati, apalagi bus ekonomi yang tua ini. Nanti banyak orang berfikir aku lebay, bahkan gila. Oh, tidak!
Tersenyum bangga aku ketika melangkahkan kakiku di sini. Di tempat pemberhentian bis di kota harapanku ini. Kota yang akan ku tinggali selama beberapa tahun ke depan nantinya. Kota dimana aku akan menuntut ilmu, menimba segala pengetahuan, menggali seluruh pengalaman, dan merajut semua harapan, impian, mimpi-mimpi, asa dan cita-cita. Kota yang berperan sebagai pintu gerbang keberhasilanku nanti. Welcome to Semarang.
Aku bangga, karena akhirnya aku bisa sampai di sini dengan selamat. Walaupun pada awalnya banyak yang meragukanku.
“Udah deh Medina, ibu temenin ya..” bujuk ibu.
“Nggak usah lah bu.. Ibu kan udah nemenin Medi waktu ngurus ini ngurus itu. Sekarang biarin Medi sendiri ya bu? Medi kan udah gede, udah jadi mahasiswa, mau nggak mau Medi harus mandiri dong.. Kapan Medi mau mandiri kalau ibu ngawasin Medi terus, ngikutin Medi terus. Masa mau sih semur hidup ditemenin ibu terus. Nggak dong bu.. hehe..“ Aku kan udah mahasiswa, malu lah kalau harus ditemenin ibu.
“Ah kau ini, mahasiswa baru juga udah berasa jadi mahasiswa lama aja..”
“Maksud ibu gimana? Kan emang Medi tu udah jadi mahasiswa. Kan Medi emang udah diterima jadi mahasiwa..”
“Iya deh Medina anakku sayang.. Tapi kan kamu besok ospek, kalau repot, butuh ini butuh itu, suruh ini suruh itu, bisa sendiri nih? Yakin nggak perlu bantuan ibu?”
“Yaa.. Insyaallah bisa. Ibu bantu doa aja ya bu..”
Begitulah, ibu terlalu mengkhawatirkanku. Selalu menggapku seperti anak kecil saja. Maklum aku memang anak terkecil di keluargaku, pantas saja ibu memperlakukanku begitu. Tapi aku sudah bosan diperlakukan seperti itu terus.
Akhirnya dengan ijin kedua orang tuaku, aku pun berangkat ke Semarang seorang diri. Alhamdulillah aku masih dilindungi Allah, sehingga aku masih bisa selamat tanpa kurang satu pun.
Dan kini, aku disambut oleh patung kuda bertuankan Pangeran Diponegoro, dan di atasnya tertulis UNIVERSITAS DIPONEGORO. Yap, kawan.. Aku sekarang menjadi mahasiswa baru Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Teknik, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota.

{{{

Allahu akbar Allahu akbar..
Gema adzan shubuh telah berkumandang memanggil-manggil. Ku sudah terjaga sejak jam tiga tadi. Ya, aku tadi shalat malam, qiyamul lail. Kalau Ziya dan Hera–– dua sahabat sejatiku sejak SMA –– tahu pasti mereka shock. Biasanya shalat shubuh aja aku jam enam. Bagaimana mungkin bisa bangun jam tiga untuk shalat tahajud? Haha.. Aku saja heran dengan perubahanku ini.
Semua ini berawal dari tempat ini. Ya, rumah kos ini. Sepertinya aku telah terjerumus di jalan yang lurus dan terdampar di jalan yang benar. Ketika aku mencari kos-kosan, aku benar-benar tak tahu dan tak mengira bahwa tetangga kamarku adalah tipe-tipe ‘anak rohis’. Bayangkan saja, dari 10 anak yang ngekos di kosan ini, semuanya berjibab, kecuali aku. Dan 6 dari 10 anak itu menutupi kepalanya dengan jilbab yang lebar, tebal, bahkan kadang dobel. Lekukan tubuh mereka terbungkus pakaian rapi, panjang, dan longgar. Ia menutupi bentuk kakinya dengan selalu menggunakan rok. Mereka juga tak tanggung-tanggung menutupi kakinya dengan kaos kaki. Hanya wajah dan telapak tangan mereka yang nampak, sama seperti perintah Allah dalam al-quran yang sering kudengar, namun masih sulit kulaksanakan.
Awalnya aku menganggap mereka aneh, mereka menurutku memiliki aliran tertentu yang sesat yang saat ini sedang menjadi trend pada berita – berita nasional. Namun lama kelamaan, aku tak memedulikan itu. Karena sifat mereka begitu baik kepada ku dan kepada tetangga – tetangga kosku semua, serat tak ada satupun dari mereka yang mencurigakan.
Hingga pernah suatu hari, aku bangun kesiangan. Aku keluar kamar dengan sangat terburu-buru, dengan menampakkan wajah panik.
“Ada apa Medina? Kayaknya panik banget?” tegur Kak Isha, kakak berjilbab lebar yang kamarnya berada di sebelah kiriku.
“Iya Kak, aku hampir telat nih kuliahnya, tadi bangun kesiangan..” jawabku tanpa menoleh sedetik pun ke wajah ayu Kak Isha.
“Mau aku anterin? Sekalian aku juga mau ke kampus..” wah, dia menawarkan bantuan yang benar-benar sangat-sangat aku butuhkan.
“Tapi Kak, kampusku kan lebih jauh dari kampus kakak. Lagipula Kak Isha nggak buru-buru?” jawabku basa-basi.
“Nggak apa apa. Kakak nggak buru-buru kok. Ini bukan mau kuliah kok, ada syuro’ rohis. Udahlah ayo, ikut Kakak. Ntar telat lho..”
Aku diantar sampai depan kampus. Lalu Kak Isha memutar balikkan motor matic warna pink-nya. Hingga akhirnya, aku tak perlu naik angkot yang lelet itu.
Tak hanya itu dan tak hanya dia. Suatu ketika Kak Arsi –– kakak yang kamarnya persis berada di depanku–– mendapatiku sedang memegang perutku dengan tampang meringis kesakitan.
“Lho Med, kenapa to?” sapanya.
Aku sebenarnya sangat malas untuk menjawab pertanyaan itu. Namun kupaksa menjawabnya. “Maag Kak..” Setelah Kak Arsi menanya-nanyaiku layaknya dokter, ia pergi meninggalkanku dan masuk kembali ke dalam kamarku dengan semangkuk bubur ayam yang masih hangat.
“Ayo dimakan dulu Med, biar perutmu nggak sakit. Eh, tapi sebelum makan, kamu minum obat ini dulu ya?” katanya seraya menyodorkan satu tablet obat berwarna hijau muda itu. Dia memang bukan anak kedokteran, namun tampaknya ia lebih cekatan daripada dokter ynag sering kujumpai.
Itu hanya beberapa kebaikan mereka, masih banyak lainnya. Hingga suatu saat, Kak Isha melihatku sedang termenung dan sedikit menangis. Ia menghampiriku dengan melingkarkan tangannya di pundakku.
“Kamu kenapa Med?” tanyanya ramah.
Aku tak mau mengatakannya. Aku malu. Karena tangisanku adalah tangisan rinduku pada ibu. Aku kan sudah mahasiswa, malu lah aku untuk mengakuinya.
“Ayolah, ceritakan pada kakak. Siapa tahu kakak bisa bantu, kalaupun kakak nggak bisa bantu, setidaknya bebanmu lebih berkurang. Itu sih menurut kakak.”
Benar juga sebenarnya apa yang Kak Isha bilang. Namun aku masih malu untuk menceritakannya. Dan aku hanya bisa menggeleng dengan senyuman yang dapat diartikan Aku baik-baik saja Kak, terima kasih..
“Ya sudah lah, jika kamu masih sungkan mengatakannya pada kakak. Tapi kamu punya Allah. Ia yang selalu ada dimana pun dan kapan pun kamu berada, Dia Maha Tahu, Dia Maha Melihat, Maha Mendengar. Kalau kamu punya masalah yang mungkin susah untuk menceritakannya pada orang lain, maka curhat saja pada Allah. Dia pasti membantu. Hatimu pasti lebih tenang, bebanmu lebih ringan. Coba saja. Okey Medina?” saran Kak Isha bijak.
Haha, aku aneh saja mendengarnya. Curhat sama Allah? Belum pernah aku curhat sama Allah. Tapi apa salahnya kau coba. Dan saat ini, sudah beberapa kali ‘ritual’ itu aku lakukan. Aku kerap menangis setelah solat. Entah apa yang membuatku menangis. Mungkin kerinduanku dengan kampung halaman, dengan kedua orang tuaku, atau karena mungkin aku telah banyak melakukan dosa sehingga aku merasa amat sangat bersalah ketika menghadap Allah. Namun satu yang kurasakan, aku telah menemukan teman curhat. Bahkan lebih dari sekedar teman curhat, tapi sahabat, penolong, segalanya. Aku baru merasakan hal seperti ini, dekat dengan Allah. Sesuatu yang jarang aku rasakan sebelumnya.
Benar juga apa yang dikatakan Kak Isha, hatiku merasa lebih tenang, lebih ringan, lebih ikhlas. Allah sekarang menjadi sahabat terbaikku. Sedikit demi sedikit aku benar – benar berubah haluan.

{{{

Tiba – tiba handphone Nokia E63 ku berdering. Ada sms.

“Medi, udah bangun blm? Solat shubuh.”

Sms dari ibuku. Kuketik deretan huruf dalam ponselku.

“Iya, udh bu. Udah bangun dari tadi. Ni baru selese solat..”

Pesan terkirim. Aku tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi ibuku saat membaca sms dariku. Berdering lagi ponselku. Ku klik open.

“Alhamdulillah..”

Hee, ibuku benar – benar lembut, tidak lebay seperti aku. Hmmm, aku menjadi kangen denganmu, ibu. Kapan aku pulang untuk bertemu ibu. Selain di kampus banyak kegiatan, aku pun belum punya dana  untuk pulang.
Rasanya sempurna sekali aku saat ini. Aku merasa lebih dekat dan cinta dengan Penciptaku dan kepada kedua orang tuaku.
“Dek, udah bangun belum? Solat…” Aku tahu itu suara Kak Isha. Dia rajin mengingatkanku untuk bangun solat shubuh. Karena suatu waktu yang lalu, aku pernah bercerita pada Kak Isha bahwa aku jarang bangun tepat waktu untuk sholat shubuh. Itulah, Kak Isha rajin membangunkanku.
“Iya Kak udah kok..” Aku membukakan pintu untuknya.
“Baguslah.. Udah mulai rajin kan sekarang?” Tanyanya ramah.
“Sebenarnya kalau ada tempat lebih lapang kita bisa gunakan untuk sholat berjamaah ya? Namun sayang, tak ada. Tapi sebenernya kalau dimepet-mepetin kamar kita cukup buat solat dua orang sih.. Kalau ada kesempatan sholat berjamaah, sholat berjamaah bareng kakak aja yaa.. Bisa di kamar kakak, atau di kamarmu.. Sholat berjamaah kan lebih baik daripada sholat sendiri. Pahalanya lebih banyak, 27 lho.. hehee..”
“Oh.. iya kak..”
Mulai dari saat itu, jika ada kesempatan untuk sholat berjamaah, aku sholat berjamaah. Tak hanya di kos-kosan ini, namun juga di kampus, atau dimanapun aku berada.

{{{

“Dek, lagi sibuk ngga? mau ikut kita nggak?” Ajak Kak Isha di suatu sore yang teduh, dia mengetuk pintuku dengan pelan.
“Kemana kak?” Ku buka pintu kamarku. Dan kulihat ada Kak Isha, Kak Arsi, dan Kak Dini di depan pintuku. Sudah rapi.
“Kita mau kajian dek, di Masjid Kampus. Ikut yuk. Daripada di kos sendirian lho..” Jawab Isha.
“Emang kalo kakak-kakak pergi, di kos ini tinggal aku doang mbak?”
“Iya, Dek.. Yang lain tadi udah pada pergi..”
“Emang kajian apaan si mbak?”
“Ya kajian rutin dek. Tapi yang ngisi kajian itu dari mahasiswa juga kok. Jadi kan materinya itu kita banget. Gimana?”
“Yaudah deh.. Aku ikut. Aku ganti baju dulu ya.” Aku menutup pintuku, karena akan berganti pakaian. Ketika kau membuka lemariku, gerakku terhenti, dan aku berpikir. Lalu kubuka lagi pintu kamarku.
“Kak, berarti kau pake jilbab dong?” tanyaku.
Mereka bertiga hanya tersenyum, yang dapat kudefinisikan sebagai iya adekku sayang…
“Hmm.. okelah kalau begitu. Aku punya jilbab kok. Sebentar ya Kak..”
Cukup lama aku membuat mereka menunggu. Ya aku kan harus menggunakan jilbabku dengan rapi..
“Wah, cantik sekali Medina..” puji Kak Siti ketika melihatku keluar kamar dengan pakaian panjang dan jilbab. Aku hanya tersipu malu.
“Gini dong, baru namanya Medina.. hehe.. yuk yuk berangkat. 30 detik lagi kajiannya mulai nih.. “ Kita tersenyum simpul. Kak Arsi bisa bercanda ternyata, walau sedikit garing, hehe.
Haha, mimpi apa aku semalam? Sampai aku bisa jalan bareng akhwat – akhwat ini? Yap, kini aku sudah mulai kenal istilah akhwat. Tapi aku sedikit malu berjalan bersama mereka. Aku tak seanggun mereka, dengan kaos dan celana jeans ketat. Sangat berbeda dari mereka. Namun setidaknya aku telah memakai jilbabku walaupun tipis dan mini.
Walaupun begitu aku betah berada lama bersama mereka dan teman-teman mereka, aku betah mengenakan jilbab di kepalaku, sungguh! Aku tak merasakan kegerahan atau apapun itu. Apa mungkin karena ini adalah sore yang sejuk? Atau hatiku yang mulai sejuk? Entahlah..

{{{
Pukul 07.20.
Aku ada kuliah pukul 08.00. Aku sudah mandi, sudah sarapan. Masih ada waktu cukup lama untuk berdandan. Aku mematut diri di depan cermin. Tiba-tiba pandanganku mengarah ke jilbab segi empat yang kupakai kemarin sore. Aku coba memakainya, menyerasikannya dengan kemeja ku. Ternyata warnanya pas sekali. Tiba-tiba, aku berniat memakai jilbab ke kampus. Tapi.. Ah sudahlah, aku sudah dewasa. Aku sebenarnya tahu karena menutup aurat adalah suatu kewajiban bagi seorang muslimah. Ok!
Aku berjalan dengan sangat percaya diri menelusuri jalan di kampus. Yap, Aku memakai jilbab sekarang!
Sungguh, aku sangat menikmati perubahanku sekarang. Perubahan itu datang secara tak kita sadari dari tempat yang tak terduga dan waktu yang tak kita tahu. Perubahan itu datangnya tiba-tiba, namun perlahan dan pasti, dan satu hal lagi, perubahan itu indah.

Kamis, 09 Februari 2012

Raunganku

Diposting oleh Anonim di 15.06 0 komentar
Ya Allah..
Aku tahu betapa buruknya aku,
Betapa kotor, hina, rapuhnya aku
Betapa kecil aku di mata-Mu
Betapa miskin, tak punya apa-apa,
Karena ini semua milik-Mu, titipan dari-Mu

Ya Allah..
Engkau pasti tahu
Bahwa yang aku punya hanyalah dosa
Dosa-dosaku kepada-Mu yang menjulang tinggi
Dosa kepada kedua orang tuaku, saudara-saudaraku, sahabat, tetangga
Yang tak dapat dihitung banyaknya

Ya Allah..
Kini Kau memberikan aku sebuah ujian
Berupa sakit ini ya Allah
Penyakit yang aku asing dengannya
Sakit yang membuatku menangis
Sakit yang selalu membuat ku berkecil hati
Sakit yang membuatku kerap menjerit
Merepotkan orang-orang di sekitarku
Membuat mereka mengurusiku yang sebenarnya sudah bisa mandiri
Sakit yang amat sakit rasanya

Ya Allah..
Dua tahun lalu Kau datangkan sakit itu
Selama itu aku hanya menangis
Meraung
Menjerit

Tapi mungkin aku terlalu sombong
Tahu bahwa sakit itu telah diambil
Mungkin aku terlalu sombong
Aku merasa sakit itu sudah hilang
Tapi ternyata,
Penyakit itu datang lagi

Dan kini aku menangis lagi
Air mataku menetes lagi
Hidungku sesenggukan
Baru kuingat lagi pada Kau
Betapa aku sombong melupakan penyakit yang pernah datang
Betapa aku mengira bahwa aku kan selalu sehat
Tapi Allah Maha Kuasa
Maha Berkehendak
Kini Ia menghendakiku untuk kembali merasakan ini
Mungkin Allah rindu pada tangisku setiap malam
Pada rintihanku menyebut nama-Nya ketika kambuh
Pada erangan Allah-ku yang kuteriakkan saat sakit luar biasa itu
Aku ingat, ketika sakit itu datang, bibirku bergetar menyebut nama-Mu
Berdzikir kepada-Mu
Bahkan dalam setiap nafasku kusebut nama-Mu
Mungkin Allah merindukan itu semua
Yang kini jarang kulakukan di saat aku sehat
Mungkin Allah merindukan itu semua
Sehingga mengembalikan penyakit itu lagi padaku
Allah.. Allah.. Allah..

Jika aku mengingat rasa sakit itu dulu
Jujur aku takut
Aku takut merasakan itu lagi
Aku takut aku tak kuat
Aku takut..
Bahkan tak jarang aku meminta mati
Ya, aku yang terlalu kesakitan
Meminta mati jika boleh

Tapi ketika aku ingat,
Apakah kamu sudah siap mati?
Apa kamu punya bekal yang cukup untuk menuju alam selajutnya?
Apa kamu sanggup mati sekarang?

Aku ingat, betapa aku tak punya apa-apa
Aku tak punya apa-apa yang dapat dijadikan bekalku nanti
Ilmu apa? Amalan apa?

Apakah urusanmu di dunia ini sudah kau selesaikan?
Apakah semua sudah beres sehingga kau nerani meminta mati?
Apakah orang-orang sudah merasa puas dengan pekerjaan mu di dunia ini?

Apa yang telah kau beri untuk orang-orang di sekitarmu?
Apa kau telah merasa cukup banyak memberi?
Sehingga kamu berani memnita mati??
Hahh???

Apa kontribusimu di dunia ini?
Apa yang sudah kamu berikan untuk keluargamu?
Untuk teman – temanmu, almamatermu?
Hah? Apa?
Apakah kamu sudah banyak memberi sehingga kamu berani mati?

Apa yang telah kau berikan untuk INDONESIAmu?
Dan yang paling penting,
Apa yang telah kau berikan untuk dakwah, untuk islam, untuk Allah??
Seberapa jauh kau berdakwah?
Menyerukan kebenaran?
Seberapa jauh pengorbananmu untuk islam?
Apakah semua yang lakukan di dunia ini sudah tertuju pada Allah?
Apa yang mau kau persembahkan kepada Allah??
Apakah kau mau menghadapnya dengan tangan kosong?
Ilmu yang menggantung?
Amal yang seadanya??
Hah? Iyaa?
Apakah kau mau mengahadapnya dengan pakaianmu yang kotor itu?
Apa yang kau lakukan di dunia ini cukup sebagai bekal????

Ya Allah..

Tidak..
Aku belum punya apa – apa Allah..
Aku belum punya bekal apa – apa..
Aku.. aku…

Urusanku di dunia ini belum selesai Allah..
Masih banyak yang harus kukerjakan Allah..
Masih banyak hutangku pada orang-orang di sekitarku
Belum sempat aku membalas budi orang tuaku..

Allah..
Jangan ambil nyawaku dulu..
Walau beberapa saat yang lalu aku meminta mati kepada-Mu..

Aku masih ingin bertemu Ramadhan..
Paling tidak tahun depan ya Allah..
Aku ingin mempersiapkan bekalku dulu
Menyelesaikan amanahku
Aku ingin berkontribusi untuk semua..
Berdakwah, berjihad..
Aku masih ingin berjuang di jalan-Mu
Menjunjung islam
Agama-Mu

Ya Allah.. izinkan aku..
Menghadapi sakit ini, menikmati sakit ini,
Melawannya..
Allah berikan aku kekuatan.. Allaaaah...












*jujur, aku menangis ketika mengetik kata demi kata ini

Jumat, 03 Februari 2012

Rabithah

Diposting oleh Anonim di 22.24 0 komentar




Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cinta-Mu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan

menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahaya-Mu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakal pada-Mu
hidupkan dengan ma'rifat-Mu
matikan dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan pembela

Hasil Karya Ku

Diposting oleh Anonim di 11.01 3 komentar
Entah sejak kapan, kayaknya sejak aku kuliah, aku mulai memancarkan potensi dan bakatku di bidang desain grafis, hahaa.. enggak juga ding, itu sebenernya awalnya amang aku suka ngutak atik corel draw, jadi kadang-kadang karena ngga ada orang yang mau bikin pamflet, atau banner dan semacamnya, jadi aku lah yang jadi tumbal suruh bikin begituan kalo ada acara-acara organisasi yang aku ikutin.. bisa disimpulkan, hampir setiap kegiatan, aku disuruh masuk sie pubdekdok (publikasi, dekorasi dan dokumentasi)..
tapi di taun kedua di ranah perkuliahan ini, aku kayaknya udah sedikit terlepas dari yang namanya corel draw, hehe.. aku pingin memperdalam arc view, atau arc gis, sketch up dan semacamnya aja, haha..
nah, jadi aku punya inisiatif buat mamerin beberapa desain pamflet atau semcamnya yang udah aku bikin. kalo kalian yang udah ahli bikin desain musti bilang buatan aku ini biasa aja, malah jelek, hahaa.. tapi daripada ni menuh-menuhin harddisk-ku, mending aku uploadin satu-satu, siapa tau menginspirasi.. :p
Berikut adalah beberapa hasil karyaku yang success di upload, #ups
dari banner, pamflet, desain cover, stiker, sampai jadwal imsakiyah, hahaa.. ^^

Banner Tugas Besar Proses Perencanaan. 
Kata temen-temen, bagus banget. Menjual. Serius, temenku bilang begitu, hehe..

Banner buat acara Olimpiade Mentoring.
Walaupun ini banner datangnya telat (udah setengah main, baru dipajang, hahaaa)
tapi tetep aja, jadi background yang bagus buat foto-foto, haha..

Desain cover tugas besar Proses Perencaan.
Baginilah, tugas besar kalo di Plano, dikemas secantik mungkin :)

Masih lanjutan yang atasnya, ini cover dalamnya..


Desain pamflet Open Recruitment KAMMI Teknik Universitas Diponegoro
Walaupun udah nggak masuk kepengurusan, tetep aja suruh bikin pamflet, ckckck..


Nih jadwal imsakiyah yang alhamdulillah, sukses tersebar di Kota Semarang :)


Pamflet menyambut Bulan Ramadhan dari KAMMI Teknik UNDIP tahun 2011


Stiker Menyambut Ramadhan yang dibagi juga ke sebagian warga Kota Semarang


Kamis, 02 Februari 2012

Penipuan terhadap Tukang Taksi

Diposting oleh Anonim di 22.11 0 komentar
Beberapa minggu yang lalu, ceritanya aku mengembara nih (engga sih, sebenernya biasa aja).. Jadi kebetulan, om ku mau lamaran di Pemalang. Pemalang itu masih di Jawa Tengah, kabupaten di antara Kota Pekalongan dan Kota Tegal. Kalo belum tau juga, buka peta. Sebenarnya momennya pas banget minggu tenang sebelum UAS  tuh.. Jadi sebenernya waktu pas liburan, tapi gara-gara masih ada tanggungan tugas dan kegiatan LPJ suatu organisasi dan semacamnya, jadi aku nggak libur. So, aku putuskan di Pemalang sehari doang dan langsung balik ke Semarang.
Dasar emang sebenernya baru pertama kali ke Pemalang dari Semarang ya (kalo dari Banjarnegara sih udah sering), jadi masih culun, bloon, ngga mudeng turun mana. Nah, sebelumnya aku ceritain dulu orang yang duduk di samping ku. Seorang bapak tua, bisa dibilang juga kakek muda (nah lhoo, bingung kan lu).. Dengan sok kenal, aku nanya ke bapak - bapak itu,
"Bapak turun mana, Pak?" tanyaku dengan gaya mahasiswa cendekia.
Aku lupa bapaknya jawab mana, nggak jelas, dan selain itu aku nggak tahu nama daerahnya.
"Mbak mau kemana?" tanya bapaknya balik.
"Saya mau ke Tembalang, Pak.. Kira - kira turunnya mana ya Pak?"
lagi - lagi bapaknya jawab ngga begitu jelas, dan yang aku dengar cuma, "Oh, kalau enggak, nanti turunnya ikut saya aja berarti mbak.."
Oh, okok, itu suatu pencerahan menurutku yang emang bener-bener buta nggak tau turun mana.. Untung saking begonya, aku ngga salah naik bus yaah.. Tapi waktu itu aku bener-bener ngga ada pikiran jahat sama bapaknya. Padahal dari kata-kata terakhir bapak tersebut adalah nanti turunnya ikut saya aja berarti mbak, kalo dicerna serem juga yah, bisa aja aku bapak-bapak itu turun di tempat sepi dan akhirnya aku ikut turun, lalu aku diculik, oh tidak.. ok cukup, itu cuma khayalan, dan tidak kenyataan. Malahan bapaknya itu (kayaknya harusnya besok - besok aku tanyain namanya kali ya, biar nggak pake kata ganti bapaknya atau bapak-bapak itu) meninggalkan ku sendiri dengan kebingunganku..
Jadi pas bapaknya turun, aku ikutan turun deh, tapi bapak-bapak itu jalannya terlalu cepat, mungin sudah ditunggu istri di rumah, jadi aku yang waktu itu pake gamis bekas kondangan dan sepatu sandal yang agak sakit kalo dipake lama, nggak bisa mengejar bapak itu. Dan aku ditinggal sendiri di tempat yang aku nggak tau dimana, cuma aku tau kalo itu masih di Semarang.
Ternyata di tempat itu sedang dilakukan pembangunan apalah gitu, akhirnya aku tanya kepada bapak - bapak (bapak - bapak ini lein lagi dengan bapak - bapak tadi) yang menggunakan pakaian berwarna jingga dengan topi proyek di atas kepalanya.
"Maaf Pak, mau tanya, kalau mau ke Tembalang itu lewatnya mana ya Pak?" tanyaku dengan tampang memelas tapi tetap innocent.
"Ohh, Tembalang yaa? hmmm.. lewat Dr. Cipto kali mbak.."
Jalan Dr. Cipto lewatnya mana pulaa? mana bapaknya pake kata 'kali' lagi. Meragukan..
"Oh, nggak ada bus ke Tembalang atau Banyumanik lewat sini, Pak?
"Ada kayaknya, Mbak.. Tapi jarang.."
Hmmm.. okelah, walaupun kayaknya, aku bener-bener berharap kayaknya yang dimaksud bapaknya adalah kebenaran 99%.
Oke akhirnya ada sedikit pencerahan. Aku menunggu bus di jalan itu.. Tapi lama ah, mending sambil jalan kaki, barangkali ada sesuatu yang lucu, atau unik, atau dapat inspirasi.. akhirnya aku berjalan kaki menyusuri jalan Pamularsih (itu aku tau dari plang di jalan) sampai nggak kerasa udah hampir 2 kiloan.. mana posisiku saat itu bener-bener enggak banget. udah kucel, bau keringat, udah mau pingsan (serius nih) habis pagi belum makan, ditambah matahari Semarang waktu itu lagi puanas banget, tambah lagi, tasku yang berat karena diisi laptop dan oleh-oleh, dan tangan kanan ku nyangking tas plastik berisi mangga yang sengaja dipetik simbah buat aku bawa ke Semarang..
Akhirnya, aku bener-bener nggak kuat. aku duduk di trotoar waktu itu. gilak, kayak orang gilak banget waktu itu.. Dan akhirnya aku berinisiatif untuk menelepon taksi.. Sebenarnya ide ini sudah muncul sejak tadi, tapi aku berpikir waktu itu, kalo sebenernya ada bus tembalang lewat sini, ngapain mahal-mahal naik taksi, iya ngga?? tapi kenyataannya setelah jalan 2 km belum juga melihat tanda-tanda kedatangan bus tersebut.
ok, kubuka hape Nokia bekas babe, kubuka contact tulisan burung biru (silakan dibahasa inggriskan).
"Halo, dengan taksi burung biru, ada yang bisa saya bantu?" suara mbak operator.
"Iya mbak, saya pesen taksi satu ada mbak?" suaraku udah bukan sebagai mahasiswa cendekia lagi sekarang.
"Baik, sebelumnya bisa sebutkan nomor telepon mbak?" eh, ni ngapain pake nanya-nanya nomer hapeku, aku mau minta taksi malah minta nomer hape, emangnya mbaknya mau ngapain pake nomer hapeku.
"Nomer hape saya mbak? buat apa?"
"Iya mba, berapa nomernya?"
ini kayaknya aku yang nggak gaul yaa? aduh maklum sih, naik taksi cuma beberpa kali doang, biasanya mah naik mobil jemputan warn akuning itu (angkot maksudnya..)
akhirnya aku sebutkan deh nomor hapeku, daripada mbaknya nyolot mulu, nanti aku ngga nyamope-nyampe tembalang lagi..
"baik mba, kosong lapan atu tiga sembila atu... sekian sekian.." jawabku.
"ok, baik dengan mbak Inung yaa.. Posisi mbak inung sekarang dimana??" tanya operator tersebut..
Wuju buneeng, darimana dia tau namaku??? jangan-jangan selama ini banyak taksi berkeliaran ngebuntutin aku, atau emang aku udah jadi public figure ya di semarang ini? hmm.. whatever lah, resiko orang populer..
"Iya mba, saya posisi di depan Alfam*rt Pamularsih"
"Alfam*rt yang sebelah mana mbak?"
"Yang di jalan Pamularsih embaaaak.." gilak nih ribet banget dah.
"Jalan Pamularsih itu panjang mbak, mbak Inung yang sebelah mananya??"
Gilak, mana gue tauuu, gue lagi tersesat wooyy.. jalan Pamularsih aja baru denger niih..
"Aduh mbaak, saya ngga tau ni di sebelah mana.. pokoknya saya di depan alfam*rt, trus sebelahnya ada rumah mkan padang, hehe.. nggak tau nih mbaak..."
Mbak operator membisu di balik daun telepon, entah dia lagi bingung mencerna kata-kataku, atau sedang membisu tercengang mendengar suaraku yang sayu, atau sedang ngetawain karena aku kayak orang ilang? Sebelum mbaknya bersuara aku langsung jujur deh sama mbak nya, sekalian curhat..
"Jadi gini mbaaaak, saya tersesaaaat.. saya habis turun dari bis, jalan deh sampe sini, nanya orang ngga pada tau mbaaaak.. saya ngga tau saya dimanaa, hiks,.. tolong saya mbaaak... hiks.. sroot.." aku udah jujur jujur gitu ya, eeh, mbak operator malah ketawa, ckck.. pelis mbaaaak, jangan ketawaaa, heleeep me.. suara hati kecilku meraung-raung..
"Ok, gini mbak inung, sekarang mbak pakai baju apa?"
"Saya pakai baju biru, jaket hitam, jilbab bitu, tasnya cokelat.." suaraku udah parau banget, pasrah.
"Baik mba, nanti armada kami, menuju ke pamularsih, mencari posisi mba Inung."
"Oke mbak terimakasih..hiks.."
Akhirnya dengan terpaksa aku pencet tombol bergambar telepon merah. mati. Yaah, saat itu aku tinggal nunggu taksi aja deh, sambil duduk di trotoar, moga-moga nggak gantian taksinya yang tersesat..
Tiba-tiba saat aku lagi menunggu taksi, muncul pangeran berkuda putih dari ujung jalan.. hah, itu NUGROHO.. yaa benar itu NUGROHO.. oh NUGROHO, you're my hero.. #mataberbinarbinar
ya Allah, alhamdulillah.. dateng juga itu bus. Yup, NUGROHO itu nama bus ke Tembalang atau Banyumanik yang berwarna putih bersih :)
Awalnya aku bingung, tapi kan aku udah pesen taksi.. hmmm, tapi tadi mbak operator belum ngasih nomor armadanya juga, jadi itu taksi masih ngawang-ngawang.. hmmm, daripada nggak jelas, mending aku naik bus aja yang udah di depan mata.
hmmm, maap ya burung biru, kali ini aku lebih memilih nugroho bukan kamu. sekali lagi maaf, huuftt..
Akhirnya aku duduk dengan tenang, bersandar, dalam hati, akhirnya pulang jugaa..
Jleb, tiba-tiba aku tersadar, nanti kalau taksi burung biru itu mencariku gimanaa? aduh gimana dong.
Akhirnya hapeku, aku matikan, aku takut mbak operator burung biru meneleponku, bagaimana jawabanku, masa iya kau jawab, maaf mbaak, saya memilih nugroho, ah enggak banget.. yaudah akhirnya aku matikan hapeku. selesai.
tapi sejujurnya aku belum tenang, sama aja aku ngerjain taksi burung biru dong. mana namaku udah tercatat lagi.. blacklist nih aku dari taksi burung biru, haha..
maap deh mbak, mas, bukan sengaja mau ngerjain atau mau nipu, saya cuma mempertimbangkan mana yang terbaik untuk hidup saya, hiks, #eeaa
setelah aku cerita ke banyak orang tentang peristiwa ini, semua orang yang aku ceritain pasti jawab gini :
"Ya Allah inung, tega banget sih.." atau
"hahaa, parah banget ik kowe ki" atau
"ih., inung ngawur banget yakin.." dan sebagainya dan semacamnya..
Baru setelah itu aku sadar, gilak, aku jahat yaa.. huaaaa,, Allaah maafin aku pliiis, mbak operator dan seluruh karyawan taksi burung biruu, aku minta maaf yaaa, hiks..
semoga masih ada yang mau temenan ama gw yang sudah melakukan tindak kejahatan ini.. hiks #lebaybgtsumpah
oke, akhirnya, untuk menghapus kenangan itu, aku hapus deh nomor burung biru, heheee..

---

Dan pada suatu saat, aku berada di rumah sakit, menolong seorang sahabat yang baru saja mengalami kecelakaan ringan.
"Dek, ini biar naik taksi aja kali yaah.. telpon taksi dong dek.." perintah mbak seniorku.
Aku langsung menelepon taksi yang nomornya ada di contact hapeku,
"Halo, selamat siang, dengan taksi new atl*s, ada yang bisa dibantu..."

Senin, 23 Januari 2012

Perubahan Itu Indah

Diposting oleh Anonim di 20.52 0 komentar

Pukul 08.00 waktu jam tangan ku. Ku langkahkan kakiku menuruni tangga kecil dari dalam bis menuju ke aspal hitam di kota impianku. Kuucapkan terima kasih pada bus yang aku tumpangi selama kira-kira 4-5 jam lamanya. Tentunya dalam hati, tak mungkin lah aku mengucapkan terima kasih pada benda mati, apalagi bus ekonomi yang tua ini. Nanti banyak orang berfikir aku lebay, bahkan gila. Oh, tidak!
Tersenyum bangga aku ketika melangkahkan kakiku di sini. Di tempat pemberhentian bis di kota harapanku ini. Kota yang akan ku tinggali selama beberapa tahun ke depan nantinya. Kota dimana aku akan menuntut ilmu, menimba segala pengetahuan, menggali seluruh pengalaman, dan merajut semua harapan, impian, mimpi-mimpi, asa dan cita-cita. Kota yang berperan sebagai pintu gerbang keberhasilanku nanti. Welcome to Semarang.
Aku bangga, karena akhirnya aku bisa sampai di sini dengan selamat. Walaupun pada awalnya banyak yang meragukanku.
“Udah deh Medina, ibu temenin ya..” bujuk ibu.
“Nggak usah lah bu.. Ibu kan udah nemenin Medi waktu ngurus ini ngurus itu. Sekarang biarin Medi sendiri ya bu? Medi kan udah gede, udah jadi mahasiswa, mau nggak mau Medi harus mandiri dong.. Kapan Medi mau mandiri kalau ibu ngawasin Medi terus, ngikutin Medi terus. Masa mau sih semur hidup ditemenin ibu terus. Nggak dong bu.. hehe..“ Aku kan udah mahasiswa, malu lah kalau harus ditemenin ibu.
“Ah kau ini, mahasiswa baru juga udah berasa jadi mahasiswa lama aja..”
“Maksud ibu gimana? Kan emang Medi tu udah jadi mahasiswa. Kan Medi emang udah diterima jadi mahasiwa..”
“Iya deh Medina anakku sayang.. Tapi kan kamu besok ospek, kalau repot, butuh ini butuh itu, suruh ini suruh itu, bisa sendiri nih? Yakin nggak perlu bantuan ibu?”
“Yaa.. Insyaallah bisa. Ibu bantu doa aja ya bu..”
Begitulah, ibu terlalu mengkhawatirkanku. Selalu menggapku seperti anak kecil saja. Maklum aku memang anak terkecil di keluargaku, pantas saja ibu memperlakukanku begitu. Tapi aku sudah bosan diperlakukan seperti itu terus.
Akhirnya dengan ijin kedua orang tuaku, aku pun berangkat ke Semarang seorang diri. Alhamdulillah aku masih dilindungi Allah, sehingga aku masih bisa selamat tanpa kurang satu pun.
Dan kini, aku disambut oleh patung kuda bertuankan Pangeran Diponegoro, dan di atasnya tertulis UNIVERSITAS DIPONEGORO. Yap, kawan.. Aku sekarang menjadi mahasiswa baru Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Teknik, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota.

{{{

Allahu akbar Allahu akbar..
Gema adzan shubuh telah berkumandang memanggil-manggil. Ku sudah terjaga sejak jam tiga tadi. Ya, aku tadi shalat malam, qiyamul lail. Kalau Ziya dan Hera–– dua sahabat sejatiku sejak SMA –– tahu pasti mereka shock. Biasanya shalat shubuh aja aku jam enam. Bagaimana mungkin bisa bangun jam tiga untuk shalat tahajud? Haha.. Aku saja heran dengan perubahanku ini.
Semua ini berawal dari tempat ini. Ya, rumah kos ini. Sepertinya aku telah terjerumus di jalan yang lurus dan terdampar di jalan yang benar. Ketika aku mencari kos-kosan, aku benar-benar tak tahu dan tak mengira bahwa tetangga kamarku adalah tipe-tipe ‘anak rohis’. Bayangkan saja, dari 10 anak yang ngekos di kosan ini, semuanya berjibab, kecuali aku. Dan 6 dari 10 anak itu menutupi kepalanya dengan jilbab yang lebar, tebal, bahkan kadang dobel. Lekukan tubuh mereka terbungkus pakaian rapi, panjang, dan longgar. Ia menutupi bentuk kakinya dengan selalu menggunakan rok. Mereka juga tak tanggung-tanggung menutupi kakinya dengan kaos kaki. Hanya wajah dan telapak tangan mereka yang nampak, sama seperti perintah Allah dalam al-quran yang sering kudengar, namun masih sulit kulaksanakan.
Awalnya aku menganggap mereka aneh, mereka menurutku memiliki aliran tertentu yang sesat yang saat ini sedang menjadi trend pada berita – berita nasional. Namun lama kelamaan, aku tak memedulikan itu. Karena sifat mereka begitu baik kepada ku dan kepada tetangga – tetangga kosku semua, serat tak ada satupun dari mereka yang mencurigakan.
Hingga pernah suatu hari, aku bangun kesiangan. Aku keluar kamar dengan sangat terburu-buru, dengan menampakkan wajah panik.
“Ada apa Medina? Kayaknya panik banget?” tegur Kak Isha, kakak berjilbab lebar yang kamarnya berada di sebelah kiriku.
“Iya Kak, aku hampir telat nih kuliahnya, tadi bangun kesiangan..” jawabku tanpa menoleh sedetik pun ke wajah ayu Kak Isha.
“Mau aku anterin? Sekalian aku juga mau ke kampus..” wah, dia menawarkan bantuan yang benar-benar sangat-sangat aku butuhkan.
“Tapi Kak, kampusku kan lebih jauh dari kampus kakak. Lagipula Kak Isha nggak buru-buru?” jawabku basa-basi.
“Nggak apa apa. Kakak nggak buru-buru kok. Ini bukan mau kuliah kok, ada syuro’ rohis. Udahlah ayo, ikut Kakak. Ntar telat lho..”
Aku diantar sampai depan kampus. Lalu Kak Isha memutar balikkan motor matic warna pink-nya. Hingga akhirnya, aku tak perlu naik angkot yang lelet itu.
Tak hanya itu dan tak hanya dia. Suatu ketika Kak Arsi –– kakak yang kamarnya persis berada di depanku–– mendapatiku sedang memegang perutku dengan tampang meringis kesakitan.
“Lho Med, kenapa to?” sapanya.
Aku sebenarnya sangat malas untuk menjawab pertanyaan itu. Namun kupaksa menjawabnya. “Maag Kak..” Setelah Kak Arsi menanya-nanyaiku layaknya dokter, ia pergi meninggalkanku dan masuk kembali ke dalam kamarku dengan semangkuk bubur ayam yang masih hangat.
“Ayo dimakan dulu Med, biar perutmu nggak sakit. Eh, tapi sebelum makan, kamu minum obat ini dulu ya?” katanya seraya menyodorkan satu tablet obat berwarna hijau muda itu. Dia memang bukan anak kedokteran, namun tampaknya ia lebih cekatan daripada dokter ynag sering kujumpai.
Itu hanya beberapa kebaikan mereka, masih banyak lainnya. Hingga suatu saat, Kak Isha melihatku sedang termenung dan sedikit menangis. Ia menghampiriku dengan melingkarkan tangannya di pundakku.
“Kamu kenapa Med?” tanyanya ramah.
Aku tak mau mengatakannya. Aku malu. Karena tangisanku adalah tangisan rinduku pada ibu. Aku kan sudah mahasiswa, malu lah aku untuk mengakuinya.
“Ayolah, ceritakan pada kakak. Siapa tahu kakak bisa bantu, kalaupun kakak nggak bisa bantu, setidaknya bebanmu lebih berkurang. Itu sih menurut kakak.”
Benar juga sebenarnya apa yang Kak Isha bilang. Namun aku masih malu untuk menceritakannya. Dan aku hanya bisa menggeleng dengan senyuman yang dapat diartikan Aku baik-baik saja Kak, terima kasih..
“Ya sudah lah, jika kamu masih sungkan mengatakannya pada kakak. Tapi kamu punya Allah. Ia yang selalu ada dimana pun dan kapan pun kamu berada, Dia Maha Tahu, Dia Maha Melihat, Maha Mendengar. Kalau kamu punya masalah yang mungkin susah untuk menceritakannya pada orang lain, maka curhat saja pada Allah. Dia pasti membantu. Hatimu pasti lebih tenang, bebanmu lebih ringan. Coba saja. Okey Medina?” saran Kak Isha bijak.
Haha, aku aneh saja mendengarnya. Curhat sama Allah? Belum pernah aku curhat sama Allah. Tapi apa salahnya kau coba. Dan saat ini, sudah beberapa kali ‘ritual’ itu aku lakukan. Aku kerap menangis setelah solat. Entah apa yang membuatku menangis. Mungkin kerinduanku dengan kampung halaman, dengan kedua orang tuaku, atau karena mungkin aku telah banyak melakukan dosa sehingga aku merasa amat sangat bersalah ketika menghadap Allah. Namun satu yang kurasakan, aku telah menemukan teman curhat. Bahkan lebih dari sekedar teman curhat, tapi sahabat, penolong, segalanya. Aku baru merasakan hal seperti ini, dekat dengan Allah. Sesuatu yang jarang aku rasakan sebelumnya.
Benar juga apa yang dikatakan Kak Isha, hatiku merasa lebih tenang, lebih ringan, lebih ikhlas. Allah sekarang menjadi sahabat terbaikku. Sedikit demi sedikit aku benar – benar berubah haluan.

{{{

Tiba – tiba handphone Nokia E63 ku berdering. Ada sms.

“Medi, udah bangun blm? Solat shubuh.”

Sms dari ibuku. Kuketik deretan huruf dalam ponselku.

“Iya, udh bu. Udah bangun dari tadi. Ni baru selese solat..”

Pesan terkirim. Aku tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi ibuku saat membaca sms dariku. Berdering lagi ponselku. Ku klik open.

“Alhamdulillah..”

Hee, ibuku benar – benar lembut, tidak lebay seperti aku. Hmmm, aku menjadi kangen denganmu, ibu. Kapan aku pulang untuk bertemu ibu. Selain di kampus banyak kegiatan, aku pun belum punya dana  untuk pulang.
Rasanya sempurna sekali aku saat ini. Aku merasa lebih dekat dan cinta dengan Penciptaku dan kepada kedua orang tuaku.
“Dek, udah bangun belum? Solat…” Aku tahu itu suara Kak Isha. Dia rajin mengingatkanku untuk bangun solat shubuh. Karena suatu waktu yang lalu, aku pernah bercerita pada Kak Isha bahwa aku jarang bangun tepat waktu untuk sholat shubuh. Itulah, Kak Isha rajin membangunkanku.
“Iya Kak udah kok..” Aku membukakan pintu untuknya.
“Baguslah.. Udah mulai rajin kan sekarang?” Tanyanya ramah.
“Sebenarnya kalau ada tempat lebih lapang kita bisa gunakan untuk sholat berjamaah ya? Namun sayang, tak ada. Tapi sebenernya kalau dimepet-mepetin kamar kita cukup buat solat dua orang sih.. Kalau ada kesempatan sholat berjamaah, sholat berjamaah bareng kakak aja yaa.. Bisa di kamar kakak, atau di kamarmu.. Sholat berjamaah kan lebih baik daripada sholat sendiri. Pahalanya lebih banyak, 27 lho.. hehee..”
“Oh.. iya kak..”
Mulai dari saat itu, jika ada kesempatan untuk sholat berjamaah, aku sholat berjamaah. Tak hanya di kos-kosan ini, namun juga di kampus, atau dimanapun aku berada.

{{{

“Dek, lagi sibuk ngga? mau ikut kita nggak?” Ajak Kak Isha di suatu sore yang teduh, dia mengetuk pintuku dengan pelan.
“Kemana kak?” Ku buka pintu kamarku. Dan kulihat ada Kak Isha, Kak Arsi, dan Kak Dini di depan pintuku. Sudah rapi.
“Kita mau kajian dek, di Masjid Kampus. Ikut yuk. Daripada di kos sendirian lho..” Jawab Isha.
“Emang kalo kakak-kakak pergi, di kos ini tinggal aku doang mbak?”
“Iya, Dek.. Yang lain tadi udah pada pergi..”
“Emang kajian apaan si mbak?”
“Ya kajian rutin dek. Tapi yang ngisi kajian itu dari mahasiswa juga kok. Jadi kan materinya itu kita banget. Gimana?”
“Yaudah deh.. Aku ikut. Aku ganti baju dulu ya.” Aku menutup pintuku, karena akan berganti pakaian. Ketika kau membuka lemariku, gerakku terhenti, dan aku berpikir. Lalu kubuka lagi pintu kamarku.
“Kak, berarti kau pake jilbab dong?” tanyaku.
Mereka bertiga hanya tersenyum, yang dapat kudefinisikan sebagai iya adekku sayang…
“Hmm.. okelah kalau begitu. Aku punya jilbab kok. Sebentar ya Kak..”
Cukup lama aku membuat mereka menunggu. Ya aku kan harus menggunakan jilbabku dengan rapi..
“Wah, cantik sekali Medina..” puji Kak Siti ketika melihatku keluar kamar dengan pakaian panjang dan jilbab. Aku hanya tersipu malu.
“Gini dong, baru namanya Medina.. hehe.. yuk yuk berangkat. 30 detik lagi kajiannya mulai nih.. “ Kita tersenyum simpul. Kak Arsi bisa bercanda ternyata, walau sedikit garing, hehe.
Haha, mimpi apa aku semalam? Sampai aku bisa jalan bareng akhwat – akhwat ini? Yap, kini aku sudah mulai kenal istilah akhwat. Tapi aku sedikit malu berjalan bersama mereka. Aku tak seanggun mereka, dengan kaos dan celana jeans ketat. Sangat berbeda dari mereka. Namun setidaknya aku telah memakai jilbabku walaupun tipis dan mini.
Walaupun begitu aku betah berada lama bersama mereka dan teman-teman mereka, aku betah mengenakan jilbab di kepalaku, sungguh! Aku tak merasakan kegerahan atau apapun itu. Apa mungkin karena ini adalah sore yang sejuk? Atau hatiku yang mulai sejuk? Entahlah..

{{{
Pukul 07.20.
Aku ada kuliah pukul 08.00. Aku sudah mandi, sudah sarapan. Masih ada waktu cukup lama untuk berdandan. Aku mematut diri di depan cermin. Tiba-tiba pandanganku mengarah ke jilbab segi empat yang kupakai kemarin sore. Aku coba memakainya, menyerasikannya dengan kemeja ku. Ternyata warnanya pas sekali. Tiba-tiba, aku berniat memakai jilbab ke kampus. Tapi.. Ah sudahlah, aku sudah dewasa. Aku sebenarnya tahu karena menutup aurat adalah suatu kewajiban bagi seorang muslimah. Ok!
Aku berjalan dengan sangat percaya diri menelusuri jalan di kampus. Yap, Aku memakai jilbab sekarang!
Sungguh, aku sangat menikmati perubahanku sekarang. Perubahan itu datang secara tak kita sadari dari tempat yang tak terduga dan waktu yang tak kita tahu. Perubahan itu datangnya tiba-tiba, namun perlahan dan pasti, dan satu hal lagi, perubahan itu indah.

 

live and life Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea