Minggu, 28 Agustus 2011

Pelajaran dari Sebuah Kunjungan

Diposting oleh Anonim di 09.26 0 komentar

Hari Jumat siang yang mendung di Banjarnegara ini, akhirnya satu target liburanku tercapai. Aku menginginkan liburan semester ini, aku bisa mengencangkan ikatan tali silaturahim kepada seseorang yang membuat aku jadi seperti  ini saat ini, orang yang membuat aku belajar, berfikir maju, yang membuat bacaan Al-Quranku lebih baik dan lancar, dan yang pasti dan utama lebih dekat dengan Maha Pencipta, Allah Subhanahu wa ta’ala, Sang Murabbi.
“Assalamualaikum, Rahma, km udh brkt blm?” tanyaku pada Rahma sahabatku semasa SMA. Dia menemaniku mengkaji dan mengaji islam dalam suatu lingkaran kecil, liqo, dengan namanya yang mungil, Salsabila. Jargon kami teman-teman satu liqoan adalah Salsabila.. Tetap semangat! Hehe.. Imut dan polos sekali yah. Maklum, kita berkumpul dalam satu majelis ini saat kami masih duduk di bangku kelas X. Dan sekarang, sebagian dari kami, sudah ada yang berkepala dua. Kami sudah kuliah. Namun, kedewasaan kami (aku lebih khususnya) patut dipertanyakan. Sampai sekarang masih manja seperti anak kecil. Tak ada orang tua, aku manja pada murabbi, pada kakak angkatan di kampus atau di wisma –begitu kami menyebut kos-kosan kami-
Ya, memang kami sekarang terpisah. Jadwal liburannya pun tak sama. Hingga aku hanya bisa mengajak Rahma untuk bersilaturahim ke murabbi kami.
“Waalaikumsalam. Belum nung. Bentar ya, ni aku blm solat, nunggu pada jumatan dulu.” Kami janjian di tempat pemberhentian angkot untuk menuju rumah murabbiku tersebut. Maklum, kami berdua –walaupun sudah bisa mengendarai motor- belum terlalu berani turun ke jalan yang ramai dan jauh. Apalagi fasilitas motornya juga belum tersedia, hehe.
“Oh, yaudah, kalo udh brkt, kabari yyaak..”
Sekitar lima belas menit aku menunggu di alun-alun, lebih baik menunggu di sini dulu sampai Rahma datang daripada menunggu di tempat pemberhentian angkot yang panas dan banyak berpolusi asap rokok. Waktu itu aku habiskan berbincang dengan salah seorang temanku yang memang sedari pagi bersamaku karena ada agenda bersama. Kami ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon –tapi yang pasti kami nggak ngomongin orang kok, hehe- dari masalah kampus sampai nostalgia masa SMA, dengan ditemani satu bungkus es kelapa muda seharga 2000 rupiah (kenapa harus mencantumkan harganya segala yak? Hehe..)
Tepat seruputan es milikku habis, handphone Nokia E63-ku berbunyi.
“Nung, aku udh smpe di gayam (tempat pemberhentian angkot yang tadi saya bicarakan)”
“Oh, ok, ak lagi jalan kesana. Tunggu.”
Lalu kulihat akhwat berjilbab hitam, baju biru, rok hitam, dengan tas slempang kecil digantungkan di bahunya.
“Rahmaaa…”
Hmm.. saking kangennya satu semester tak bersua, aku langsung heboh memanggilnya. Aku benar – benar senang bisa bertemu teman seperjuanganku sekarang, dan aku yakin dia pun demikian (pede sekali aku…)
Kami banyak ngobrol, ehm, maksud saya berdiskusi tentang kampus kami. Aku di Universitas Diponegoro Semarang tercinta, dan Rahma di Universitas Negeri Yogyakarta. Asyik sekali sampai tak terasa kami sudah sampai di depan rumah murabbi kami yang sederhana.
Bisa kubilang sederhana, karena tampak mungil dari depan, biar lebih enak didengar, daripada ku tulis kecil. Dindingnya masih kasar, belum dihaluskan dengan semen, apalagi dicat. Pintunya dari kayu yang sepertinya kokoh, tanpa cat pula, sehingga menunjukkan warna asli kayu tersebut. Namun di depannya banyak tanaman – tanaman baik dalam pot, maupun langsung di tanah. Kebetulan ada tanaman bunga sepatu yang sedang berbunga, Bunganya merah  muda, cantik sekali. Oya, sebelumnya aku belum pernah berkunjung ke rumah ini.
“Assalamualaikum..” kami kompak.
“Waalaikumussalam warohmatullah..” Sosok itu muncul juga, murabbiku. Dengan gamis warna cream paduan kotak -  kotak biru. Dipadupadankan dengan jilbab instan warna hitam, dengan renda kecil di bagian bawahnya. Wajah yang kami rindukan, wajah yang putih bersih cerah dan bercahaya.
Sesaat di baliknya muncul anak laki-laki kecil berusia 3 tahunan. Muflih, ya aku ingat namanya Muflih, putra pertama beliau. Dan sekarang beliau juga diamanahi putra kedua, Khodija Taqiya ‘Abidah. Masih sangat kecil, berusia 4 bulan.
“Apa kabar ukhti, para mujahidah..” hmm.. sapaan yang indah sekali untukku..
“Alhamdulillah Mbak.. Mbak gimana?”
“Alhamdulillah kami semua sehat. Ayo duduk dulu..”
Setelah itu kita lebih memilih bermain-main dengan Muflih. Sementara beliau di belakang. Mungkin sedang mempersiapkan jamuan untuk kami (hah, pede sekali..). Karena tak enak, kami memutuskan menyusul murabbiku itu. Barangkali ada yang bisa kami bantu. Aku masuk ke dalam sambil melihat – lihat rumah ini. Hmm.. Memang sederhana. Ada 3 kamar kulihat, dan dua kamar mandi. Dinding keseluruhannya masih kasar. Sama sekali belum dicat. Selain itu, masih beralaskan tanah. Kecuali untuk kamar-kamarnya yang sudah ditempeli keramik warna putih dan sudah dicat putih. Aku melangkah ke dapur, ternyata beliau masih menyiapkan teh hangat untuk kami.
“Nggak usah repot-repot mbak..” Ucap Rahma. Aku masih melihat-lihat seisi ruangan. Walaupun belum sempurna rumah ini, namun bersih. Kutengok ke meja makan, terlihat nasi di cething, sepiring tempe dan tahu goreng, serta pisang. Sudah.
“Nggak papa. Udah yuk, ke depan aja..” Sudah selesai beliau menyiapkan semuanya ketika beliau mengucapkan kata-kata tersebut. AKhirnya kami kembali ke depan. Hmm.. Tampak Muflih sedang bermain sesuatu, aku tak tahu apa itu.
Aku duduk di kursi triplek, yang sama sekali tidak empuk. Di depan kami terdapat meja kayu, yang kini telah berisi dua gelas the hangat dan dua toples makanan ringan. Yang satu berisi keripik pisang, satunya biscuit.
Aku masih tertarik untuk melihat rumah ini. Rumah ini memang kecil dansederhana, namun bersih, sejuk, dan nyaman. Tak kulihat perabotan mewah di dalam rumah ini. Bahkan seperti yang sudah kuceritakan, kursi tamu pun terbuat dari triplek. Tempat tidur pun masih dari kapuk. Oh ya, aku baru sadar, tak ada televisi di rumah ini! Apalagi DVD player, play station, AC, tak ada. Namun kulihat laptop di kamar beliau saat aku masuk ke kamar untuk solat.
Hmm.. memang sederhana. Bukan. Bukan mereka tak mampu untuk membeli itu semua. Namun, mereka memilih mana yang lebih mereka butuhkan.
Ohya, belum kujelaskan pekerjaan mereka (Murabbiku dan suaminya). Murabbiku adalah seorang guru yang sudah berstatus PNS di sebuah SMP Negeri. Suaminya adalah Kepala Sekolah sebuah SD Islam swasta yang terkenal kualitasnya, bisa dibilang nomor satu di kotaku. Dan perlu diketahui untuk memasuki SD tersebut lumayan susah, karena banyak saingannya dan yang pasti untuk seukuran SD, termasuk mahal.
Subhanallah.. Apabila semua pemimpin di Indonesia, bahkan di muka bumi ini seperti mereka, yang hidup sederhana sesuai kebutuhan, alangkah indahnya dunia ini. Apalagi untuk melakukan korupsi, membeli hal – hal yang memang tidak perlu untuk dibeli pun tidak !
Subhanallah..

If Today Is The Last Day

Diposting oleh Anonim di 09.10 0 komentar
Andai kau tahu, ini hari terakhirmu...

Inikah yang hendak kau kerjakan?
1. mengingat dosa dan bertaubat nasuha dari segala dosa dan memperbanyak istighfar.
2. membersihkan rumah dari barang dan peralatan haram yang membuat malu di dunia dan menjadi beban di akhirat.
3. menunaikan shalat dengan berjamaah di masjid, dengan tuma'ninah dan sekhusyu' mungkin.
4. tidak beranjak dari tempat shalat sebelum membaca dzikir yang disyariatkan dengan penuh konsentrasi.
5. meminta maaf kepada orang yang telah dizhalimi, baik kezhaliman dalam bentuk ucapan, perilaku maupun hubungannya dengan harta.
6. menyampaikan titipan amanah kepada yang berhak menerimanya.
7. memperbanyak membaca al-quran, setelah sekian lama ditinggal.
8. membasahi bibir dengan dzikrullah di setiap waktu dan kondisi.
9. memperbanyak sedekah kepada orang yang membutuhkannya.
menjauhi segala dosa yang tidak berguna.
10. menjauhi segala dosa dan yang tidak berguna.

Jika demikian, mengapa tidak kau kerjakan semuanya hari ini?
Bisa jadi, ini hari terakhirmu...

"Sesungguhnya amal (yang paling mementukan) adalah amal terakhirnya." (HR. Bukhari)


dikutip dari sobekan majalah Ar-Risalah di rumah, ternyata walau kayanya cuma sobekan, isinya bagus dan menginspirasi..

Sabtu, 27 Agustus 2011

Orang Baik Masih Ada

Diposting oleh Anonim di 09.48 0 komentar


“Hari gini mana ada yang gratis??” 
“Hari gini mah udah ngga ada orang yang baik.. orang yang bisa dipercaya..”
Sering ngga kalian denger pernyataan kayak di atas tadi? Kalo aku sih sering ya.. biasanya tuh ibuk – ibuk yang asyik nongkrong di warung sambil nggosipin, dari nggosipin tetangga sebelah sampai artis di tivi, bahkan pemerintahan Indonesia ini.
Sebenarnya bener ngga sih yang ibuk – ibuk katakan tadi? Ya, di satu sisi memang benar, tapi di sisi lain, siapa yang menjamin. Dunia ini semakin hari semakin ‘aneh’. Orang jahat, kejam, nakal, dan yang jelek – jelek lainnya (seperti peran antagonis dalam sebuah sinetron) makin banyak, berkembang biak dengan cepat. Namun di sisi lain, orang baik, sopan, halus tutur katanya, baik budinya, dan lain – lain sifat yang baik (protagonisnya nih) juga Alhamdulillah bertambah. Aku memang tidak tahu pasti manakah yang jumlahnya lebih besar, namun aku bisa melihat itu di sekitar kita saja. Lihat aja di berita, banyak kasus – kasus kriminal yang uh, engga banget deh, dari yang nyolong ayam, kakek memperkosa cucunya, anggota DPR yang berbuat mesum dengan penyanyi dangdut, sampai kasus akidah seperti orang yang makan mayat, antri berobat di dukun sampai kaya antri sembako dan masih banyak lagi. Sekarang, lihat juga sisi lain. Di kampus contohnya yang terdekat. Sekarang, mentoring, liqo atau halaqah adalah hal yang biasa di masjid – masjid, dan sudah tidak dianggap aneh lagi. Banyak akhwat – akhwat, ikhwan – ikhwan yang berkeliaran di jalan. Banyak film – film layar lebar yang mengangkat islam, dan banyaknya partai islam juag salah satu indikator (walaupun ideology mereka tak sama).
Jadi, hari gini masih ada lho orang baik, dan doakan semoga bertambah. Kalo barang gratis? Lihat ceritaku..
Sore itu sekitar jam setengah 4, cuacanya memang tak panas. Bahkan hujan baru saja turun. Aku jalan sendirian, menyusuri jalanan di Undip dengan pelan. Sambil sesekali menengok belakang untuj melihat ada angkot yang lewat atau tidak. Sore itu hari Ahad. Jadi ya memang jarang sekali angkot yang berkeliaran di kampus. Tapi, harapan itu masih ada (lho?). maksudku berharap ada angkot tak ada salahnya kan? Ku berjalan dari gedung perpustakaan Undip “Widya Puraya”. Aku bertekad kalau sampai nanti ngga ada angkot, berarti aku jalan kaki sampai ke kosku yang ada di jalan banjarsari. Kalo kamu anak undip pasti tau. Kalau bukan, aku kasih tau, jadi dari widya puraya sampai banjarsari lumayan jauh. Kurang lebih satu sampai satu setengah kiloan, pokoknya lumayan banget deh kalo jalan kaki. Lumayan bisa buat kaki begel – pegel, keringat bercucuran, dan sebagainya.
Tapi Alhamdulillah, ketika aku sampai di bundaran ex-Mandiri, (kalo yang anak Undip pasti tau, tapi kalo yang ngga tau, itu ya sekitar setengah kiloan deh..) tiba-tiba ada motor yang mendekatiku dan ngerem tepat di sampingku. Wah, akhwat nih.. Pengendara motor yang mbak-mbak akhwat itu membuka kaca helm-nya. Aku poikir-pikir sejenak.. sepertinya aku tidak kenal dengan sosoknya.
“Ayo dek, ikut..”
Saat itu aku ngga piker-pikir. Insyaallah aku percaya sama mbaknya.. insyaallajh identitas yang beliau pakai sudah cukup membangun kepercayaanku. Nggak tau juga tuh aku tanpa malu-malu, tanpa basa-basi langsung deh naik itu motor. Mungkin emang dasarnya udah capek jalan kali ya.. jadi ngga mikir tuh mbak ukhti itu mau menculikku atau membawaku ke tempat yang aku nggak tau.. hahaa.. #korban sinetron.
“makasih ya mba..” ya Cuma itu yang aku ucapin, dan itu aku ucapkan ketika aku sudah duduk manis di jok empuk motor mbak akhwat tadi.
“iya dek sama-sama.. wismanya mana?” sekali lagi kutuliskan, kalo anak Undip mah insyaallah tau wisma itu apa.. tapi bagi yang nggak tau, akan aku jelaskan. Jadi, wisma itu sebuah rumah kos-kosan berbasis pembinaan, khususnya pembinaan islam. Jadi ada wisma untuk ikhwan dan akhwat. Nah, di dalam wisma (khususnya wisma akhwat) penghuninya harus berjilbab. Satu wisma biasanya dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa satu fakultas, mungkin agar kultur belajarnya sama atau sejenis. Oke, cukup masalah wisma.
“saya di wisma Tsabita mba..”
Wah, sepertinya wismaku yang satu itu memang cukup terkenal di kalangan ikhwah. Eh engga ding, temen-temenku yang notabene anak gaul juga tau, kalo kos ku bernama wisma Tsabita. Siapa dulu yang mempopulerkan.. (emang siapa? Aku juga nggak tau.. hehe)
Ok, kenapa aku bisa bilang wismaku terkenal. Karena mbak – mbak akhwat tadi menurunkanku di persis pintu gerbang wisma ku.
“ok, jazakillah ya mbak..” itu yang aku ucapkan, ucapan terima kasih, saat aku turun dari motornya si embak tadi..
“ok, waiyyaki.. duluan ya dek..”
Soo..
Tuh kan, sebenernya masih banyak orang baik di dunia ini. Dan masih ada barang (mungkin tepatnya jasa) yang gratis. Tadi Cuma salah satu contoh aja. Dan aku yakin, kalian punya cerita masing-masing kan? Ini ceritaku, apa ceritamu?? ^^

Minggu, 21 Agustus 2011

Muhasabah di Tepi Jalan

Diposting oleh Anonim di 16.24 0 komentar
Di saat aku berada dalam kejenuhan di kota rantauan, sekaligus kota harapan, Semarang. Di saat keinginan pulang ke kampung halaman (bukan kampung juga si sebenernya) memuncak hingga mencapai titik kulminasi tertinggi, ada suatu hal yang mungkin tak dapat menghapus rasa rindu pada rumah, namun setidaknya aku bisa melupakannya sejenak. Dan yang pasti, dapat diambil suatu sisi positif yang menambah rasa syukurku pada Allah SWT.

6 Agustus 2011 - 6 Ramadhan 1432 H. Sore itu aku mengikuti agenda organisasi yang aku ikuti yaitu buka bersama anak-anak jalanan Satu Atap di Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Sebenarnya aku malas mengikutinya, karena hari itu, sejak pagi aku sudah kehilangan semangatku. Dari pagi setelah sahur, sakit maag-ku kambuh lagi dan badanku sedikit panas. Hmm, mungkin ini salah satu faktor yang membuatku benar-benar ingin berkumpul bersama keluarga di rumahku yang mungil namun penuh kebahagiaan, hehe.. Namun, 'yang punya hajat' mengajakku sampai aku benar-benar tak kuasa menolaknya. Okelah, akhirnya aku ikut. 

Buka bersama bersama anak jalanan. Ya, itu agenda kami sore itu. Selama ini banyak agenda buka puasa bersama yang aku ikuti. Mulai dari buka puasa angkatan, buka puasa bersama teman-teman satu perjuangan, dan buka puasa organisasi yang aku ikuti. oh iya, jangan lupa buka puasa rame-rame di Masjid Kampus atau berburu takjil gratis, hehe.. Namun, selama Ramadhan ini, belum pernah sekalipun buka puasa bersama keluargaku di rumah.. miris ya. tapi ya sudahlah, amanah ini memang harus dilakoni. nyatanya di Semarang aku mash dibutuhkan, (semoga saja begitu).

Ok, lanjut ke acara buka bersama anak jalanan. Seperti kita ketahui yah, rasanya males banget kalo di jalan kita diganggu anak – anak jalanan. Yang mengemis lah, yang ngamen dengan suara seadanya lah. Benar – benar tidak enak dilihat. Sebuah negara yang luas, kaya akan sumber daya alam, namun masyarakatnya tak terpenuhi kebutuhannya, masyarakatnya benar-benar dekat sekali dengan kemiskinan. Kita mempunyai berhektar – hektar sawah dan kebun, namun rakyatnya kelaparan. Kita mempunyai banyak manusia – manusia, yang eharusnya bisa jadi asset bangsa, namun apa yang kita lihat, manusia itu justru berebut kehidupan dengan yang lain. Tidak berketerampilan, tidak berpendidikan, tidak berperilaku yang baik, dan yang miris lagi tidak menanamkan agama dalam dirinya. Dan salah satu output akan berbagai masalah kompleks kita tersebut adalah maraknya anak – anak jalanan. Anak – anak yang hidup di jalan, bekerja di jalan, makan dari jalan, bahkan kadang bertempat tinggal di jalan. Jalan adalah kehidupannya. Mereka bangun pagi untuk mencari recehan hasil belas kasihan pengguna jalan. Sampai siang, sore, malam baru pulang. Mereka yang tak punya tempat tinggal, tidur beralaskan tanah, beratapkan langit, ditemani nyamuk – nyamuk dan dinginnya angin malam. Berbeda dengan anak – anak lain di seberang sana. Mereka bangun pagi untuk sekolah, pulang lalu bermain, ceria, tertawa, sorenya mereka mempunyai agenda les masing – masing, dan malamnya tidur dengan nyenyak di kasur empuk dan hangatnya selimut.

Dan kali ini, aku bersama mereka. Mereka yang hidup di jalanan itu. Mereka yang lusuh, kumal, dengan kulit gosong karena matahari, kaki yang tidak beralas, rambut tak kena sisir, dan kadang hidung yang ingusan. Namun ada satu yang membuat mereka istimewa. Keceriaan mereka, tawa mereka, senyum mereka. Polos. Unik. Dan ikhlas, sangat ikhlas dan apa adanya.

“Kak, gendong..” sahut anak perempuan kecil di belakangku.
Oh, tidak, aku yang selama ini tak punya adik, menjadi paling kecil dalam keluarga, yang biasa dimanja.. Sekarang, anak ini meminta gendong kepadaku. Tapi tak kuasa aku menolaknya. Peancaran matanya membuatku iba. Aku gendong dia. Lumayan berat, ya karena dia berusia lima tahun. Namun aku menikmatinya. Dia begitu dekat denganku, tak mau lepas dari gendonganku, bercerita banyak kepadaku. Namanya Rani. Usia lima tahun. Alhamdulillah, dia masih diberi kesempatan mengenyam pendidikan. Di duduk di TK nol besar. Dia pamerkan bahwa dia bisa menyanyi dengan menyanyi, masih digendonganku. Aku berpikir, dia begitu senang, dekat, padahal kami baru bertemu. Aku melihat, anak – anak ini memang kurang diperhatikan, kurang kasih sayang.

Aku senang berkenalan dengan mereka, dengan mereka yang menyebalkan di jalan. Yang mengemis – ngemis dengan kadang memaksa. Yang mengamen dengan suara sumbangnya. Bukan. Bukan keinginan mereka untuk mempunyai kehidupan seperti itu. Bukan pilihan mereka. Karena mereka tak punya pilihan lagi.

Berkaca dari mereka. Tubuhku lengkap tanpa kekurangan suatu apapun. Keluargaku pun lengkap dan sayang kepadaku. Dan Alhamdulillah, aku selalu diberi kemudahan dalam menggapai cita – citaku. Dan kini, bersyukur bisa menjadi seorang mahasiswa di Universitas Diponegoro, salah satu PTN yang kursinya diperebutkan orang se-Indonesia. Dan bersyukur karena hingga kini, aku tak perlu payah mencari uang untuk makanku. Bersyukur karena semua fasilitas itu kumiliki. Bersyukur karena aku bisa di sini. Bersyukur karena kau bisa berbagi. Bersykur karena aku dipertemukan dengan mereka. Bersyukur karena aku bisa berada dalam momen yang bisa membuat aku bersyukur.

Rabu, 03 Agustus 2011

iseng, ngga usah dibaca..

Diposting oleh Anonim di 23.29 0 komentar
Hidup memang penuh dengan masalah. Masalah yang akan membuatmu belajar, berfikir, bertindak, dan menjadi dewasa. Ya, walapun masalah itu menyebalkan, membuat kita jengkel, namun tanpa masalah apalah arti hidup kita. So flat. Bukan hidup jika tak ada masalah, jadi jika tak ingin ada masalah, nggak usah hidup !!

Dan kini aku dihadapkan pada suatu masalah. Oh, sebenarnya bukan masalah yang berarti, hanya aku yang terlalu dini untuk menerimanya. Ya, sampai saat ini aku merasa masih kecil. Masih terlalu kecil menerima amanah ini. Oh, aku ralat. Bukan aku yang masih kecil, namun belum dewasa, belum profesional, belum berkompeten, yang intinya belum pengalaman. Amanah ini terlalu berat bagiku. Bagiku untuk kuemban di punggung yang lemah ini, bagiku untuk kujinjing di tanganku yang ringkih ini, diselesaikan dengan otakku yang sebenarnya tak sampai. Maafkan aku bagi kalian yang mempercayaiku, namun sepertinya kalian kecewa denganku yang tak seperti yang kalian harapkan.. 
aduh ngomong apa sih ini aku?? aduh, ngacoo, ngga jelas banget.. 
Okelah, intinya amanah bukan beban. ketika kamu merasa amanah ini suatu yang berat, itu bukanlah sebuah masalah. itu hanyalah sebuah proses pembelajaran.. hadapi masalah, embanlah amanah dengan hati tenang dan pikiran jernih..
oke, welcome 'masalah' to my life.. keep spirit, keep smile, and fighting .. :)

Minggu, 28 Agustus 2011

Pelajaran dari Sebuah Kunjungan

Diposting oleh Anonim di 09.26 0 komentar

Hari Jumat siang yang mendung di Banjarnegara ini, akhirnya satu target liburanku tercapai. Aku menginginkan liburan semester ini, aku bisa mengencangkan ikatan tali silaturahim kepada seseorang yang membuat aku jadi seperti  ini saat ini, orang yang membuat aku belajar, berfikir maju, yang membuat bacaan Al-Quranku lebih baik dan lancar, dan yang pasti dan utama lebih dekat dengan Maha Pencipta, Allah Subhanahu wa ta’ala, Sang Murabbi.
“Assalamualaikum, Rahma, km udh brkt blm?” tanyaku pada Rahma sahabatku semasa SMA. Dia menemaniku mengkaji dan mengaji islam dalam suatu lingkaran kecil, liqo, dengan namanya yang mungil, Salsabila. Jargon kami teman-teman satu liqoan adalah Salsabila.. Tetap semangat! Hehe.. Imut dan polos sekali yah. Maklum, kita berkumpul dalam satu majelis ini saat kami masih duduk di bangku kelas X. Dan sekarang, sebagian dari kami, sudah ada yang berkepala dua. Kami sudah kuliah. Namun, kedewasaan kami (aku lebih khususnya) patut dipertanyakan. Sampai sekarang masih manja seperti anak kecil. Tak ada orang tua, aku manja pada murabbi, pada kakak angkatan di kampus atau di wisma –begitu kami menyebut kos-kosan kami-
Ya, memang kami sekarang terpisah. Jadwal liburannya pun tak sama. Hingga aku hanya bisa mengajak Rahma untuk bersilaturahim ke murabbi kami.
“Waalaikumsalam. Belum nung. Bentar ya, ni aku blm solat, nunggu pada jumatan dulu.” Kami janjian di tempat pemberhentian angkot untuk menuju rumah murabbiku tersebut. Maklum, kami berdua –walaupun sudah bisa mengendarai motor- belum terlalu berani turun ke jalan yang ramai dan jauh. Apalagi fasilitas motornya juga belum tersedia, hehe.
“Oh, yaudah, kalo udh brkt, kabari yyaak..”
Sekitar lima belas menit aku menunggu di alun-alun, lebih baik menunggu di sini dulu sampai Rahma datang daripada menunggu di tempat pemberhentian angkot yang panas dan banyak berpolusi asap rokok. Waktu itu aku habiskan berbincang dengan salah seorang temanku yang memang sedari pagi bersamaku karena ada agenda bersama. Kami ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon –tapi yang pasti kami nggak ngomongin orang kok, hehe- dari masalah kampus sampai nostalgia masa SMA, dengan ditemani satu bungkus es kelapa muda seharga 2000 rupiah (kenapa harus mencantumkan harganya segala yak? Hehe..)
Tepat seruputan es milikku habis, handphone Nokia E63-ku berbunyi.
“Nung, aku udh smpe di gayam (tempat pemberhentian angkot yang tadi saya bicarakan)”
“Oh, ok, ak lagi jalan kesana. Tunggu.”
Lalu kulihat akhwat berjilbab hitam, baju biru, rok hitam, dengan tas slempang kecil digantungkan di bahunya.
“Rahmaaa…”
Hmm.. saking kangennya satu semester tak bersua, aku langsung heboh memanggilnya. Aku benar – benar senang bisa bertemu teman seperjuanganku sekarang, dan aku yakin dia pun demikian (pede sekali aku…)
Kami banyak ngobrol, ehm, maksud saya berdiskusi tentang kampus kami. Aku di Universitas Diponegoro Semarang tercinta, dan Rahma di Universitas Negeri Yogyakarta. Asyik sekali sampai tak terasa kami sudah sampai di depan rumah murabbi kami yang sederhana.
Bisa kubilang sederhana, karena tampak mungil dari depan, biar lebih enak didengar, daripada ku tulis kecil. Dindingnya masih kasar, belum dihaluskan dengan semen, apalagi dicat. Pintunya dari kayu yang sepertinya kokoh, tanpa cat pula, sehingga menunjukkan warna asli kayu tersebut. Namun di depannya banyak tanaman – tanaman baik dalam pot, maupun langsung di tanah. Kebetulan ada tanaman bunga sepatu yang sedang berbunga, Bunganya merah  muda, cantik sekali. Oya, sebelumnya aku belum pernah berkunjung ke rumah ini.
“Assalamualaikum..” kami kompak.
“Waalaikumussalam warohmatullah..” Sosok itu muncul juga, murabbiku. Dengan gamis warna cream paduan kotak -  kotak biru. Dipadupadankan dengan jilbab instan warna hitam, dengan renda kecil di bagian bawahnya. Wajah yang kami rindukan, wajah yang putih bersih cerah dan bercahaya.
Sesaat di baliknya muncul anak laki-laki kecil berusia 3 tahunan. Muflih, ya aku ingat namanya Muflih, putra pertama beliau. Dan sekarang beliau juga diamanahi putra kedua, Khodija Taqiya ‘Abidah. Masih sangat kecil, berusia 4 bulan.
“Apa kabar ukhti, para mujahidah..” hmm.. sapaan yang indah sekali untukku..
“Alhamdulillah Mbak.. Mbak gimana?”
“Alhamdulillah kami semua sehat. Ayo duduk dulu..”
Setelah itu kita lebih memilih bermain-main dengan Muflih. Sementara beliau di belakang. Mungkin sedang mempersiapkan jamuan untuk kami (hah, pede sekali..). Karena tak enak, kami memutuskan menyusul murabbiku itu. Barangkali ada yang bisa kami bantu. Aku masuk ke dalam sambil melihat – lihat rumah ini. Hmm.. Memang sederhana. Ada 3 kamar kulihat, dan dua kamar mandi. Dinding keseluruhannya masih kasar. Sama sekali belum dicat. Selain itu, masih beralaskan tanah. Kecuali untuk kamar-kamarnya yang sudah ditempeli keramik warna putih dan sudah dicat putih. Aku melangkah ke dapur, ternyata beliau masih menyiapkan teh hangat untuk kami.
“Nggak usah repot-repot mbak..” Ucap Rahma. Aku masih melihat-lihat seisi ruangan. Walaupun belum sempurna rumah ini, namun bersih. Kutengok ke meja makan, terlihat nasi di cething, sepiring tempe dan tahu goreng, serta pisang. Sudah.
“Nggak papa. Udah yuk, ke depan aja..” Sudah selesai beliau menyiapkan semuanya ketika beliau mengucapkan kata-kata tersebut. AKhirnya kami kembali ke depan. Hmm.. Tampak Muflih sedang bermain sesuatu, aku tak tahu apa itu.
Aku duduk di kursi triplek, yang sama sekali tidak empuk. Di depan kami terdapat meja kayu, yang kini telah berisi dua gelas the hangat dan dua toples makanan ringan. Yang satu berisi keripik pisang, satunya biscuit.
Aku masih tertarik untuk melihat rumah ini. Rumah ini memang kecil dansederhana, namun bersih, sejuk, dan nyaman. Tak kulihat perabotan mewah di dalam rumah ini. Bahkan seperti yang sudah kuceritakan, kursi tamu pun terbuat dari triplek. Tempat tidur pun masih dari kapuk. Oh ya, aku baru sadar, tak ada televisi di rumah ini! Apalagi DVD player, play station, AC, tak ada. Namun kulihat laptop di kamar beliau saat aku masuk ke kamar untuk solat.
Hmm.. memang sederhana. Bukan. Bukan mereka tak mampu untuk membeli itu semua. Namun, mereka memilih mana yang lebih mereka butuhkan.
Ohya, belum kujelaskan pekerjaan mereka (Murabbiku dan suaminya). Murabbiku adalah seorang guru yang sudah berstatus PNS di sebuah SMP Negeri. Suaminya adalah Kepala Sekolah sebuah SD Islam swasta yang terkenal kualitasnya, bisa dibilang nomor satu di kotaku. Dan perlu diketahui untuk memasuki SD tersebut lumayan susah, karena banyak saingannya dan yang pasti untuk seukuran SD, termasuk mahal.
Subhanallah.. Apabila semua pemimpin di Indonesia, bahkan di muka bumi ini seperti mereka, yang hidup sederhana sesuai kebutuhan, alangkah indahnya dunia ini. Apalagi untuk melakukan korupsi, membeli hal – hal yang memang tidak perlu untuk dibeli pun tidak !
Subhanallah..

If Today Is The Last Day

Diposting oleh Anonim di 09.10 0 komentar
Andai kau tahu, ini hari terakhirmu...

Inikah yang hendak kau kerjakan?
1. mengingat dosa dan bertaubat nasuha dari segala dosa dan memperbanyak istighfar.
2. membersihkan rumah dari barang dan peralatan haram yang membuat malu di dunia dan menjadi beban di akhirat.
3. menunaikan shalat dengan berjamaah di masjid, dengan tuma'ninah dan sekhusyu' mungkin.
4. tidak beranjak dari tempat shalat sebelum membaca dzikir yang disyariatkan dengan penuh konsentrasi.
5. meminta maaf kepada orang yang telah dizhalimi, baik kezhaliman dalam bentuk ucapan, perilaku maupun hubungannya dengan harta.
6. menyampaikan titipan amanah kepada yang berhak menerimanya.
7. memperbanyak membaca al-quran, setelah sekian lama ditinggal.
8. membasahi bibir dengan dzikrullah di setiap waktu dan kondisi.
9. memperbanyak sedekah kepada orang yang membutuhkannya.
menjauhi segala dosa yang tidak berguna.
10. menjauhi segala dosa dan yang tidak berguna.

Jika demikian, mengapa tidak kau kerjakan semuanya hari ini?
Bisa jadi, ini hari terakhirmu...

"Sesungguhnya amal (yang paling mementukan) adalah amal terakhirnya." (HR. Bukhari)


dikutip dari sobekan majalah Ar-Risalah di rumah, ternyata walau kayanya cuma sobekan, isinya bagus dan menginspirasi..

Sabtu, 27 Agustus 2011

Orang Baik Masih Ada

Diposting oleh Anonim di 09.48 0 komentar


“Hari gini mana ada yang gratis??” 
“Hari gini mah udah ngga ada orang yang baik.. orang yang bisa dipercaya..”
Sering ngga kalian denger pernyataan kayak di atas tadi? Kalo aku sih sering ya.. biasanya tuh ibuk – ibuk yang asyik nongkrong di warung sambil nggosipin, dari nggosipin tetangga sebelah sampai artis di tivi, bahkan pemerintahan Indonesia ini.
Sebenarnya bener ngga sih yang ibuk – ibuk katakan tadi? Ya, di satu sisi memang benar, tapi di sisi lain, siapa yang menjamin. Dunia ini semakin hari semakin ‘aneh’. Orang jahat, kejam, nakal, dan yang jelek – jelek lainnya (seperti peran antagonis dalam sebuah sinetron) makin banyak, berkembang biak dengan cepat. Namun di sisi lain, orang baik, sopan, halus tutur katanya, baik budinya, dan lain – lain sifat yang baik (protagonisnya nih) juga Alhamdulillah bertambah. Aku memang tidak tahu pasti manakah yang jumlahnya lebih besar, namun aku bisa melihat itu di sekitar kita saja. Lihat aja di berita, banyak kasus – kasus kriminal yang uh, engga banget deh, dari yang nyolong ayam, kakek memperkosa cucunya, anggota DPR yang berbuat mesum dengan penyanyi dangdut, sampai kasus akidah seperti orang yang makan mayat, antri berobat di dukun sampai kaya antri sembako dan masih banyak lagi. Sekarang, lihat juga sisi lain. Di kampus contohnya yang terdekat. Sekarang, mentoring, liqo atau halaqah adalah hal yang biasa di masjid – masjid, dan sudah tidak dianggap aneh lagi. Banyak akhwat – akhwat, ikhwan – ikhwan yang berkeliaran di jalan. Banyak film – film layar lebar yang mengangkat islam, dan banyaknya partai islam juag salah satu indikator (walaupun ideology mereka tak sama).
Jadi, hari gini masih ada lho orang baik, dan doakan semoga bertambah. Kalo barang gratis? Lihat ceritaku..
Sore itu sekitar jam setengah 4, cuacanya memang tak panas. Bahkan hujan baru saja turun. Aku jalan sendirian, menyusuri jalanan di Undip dengan pelan. Sambil sesekali menengok belakang untuj melihat ada angkot yang lewat atau tidak. Sore itu hari Ahad. Jadi ya memang jarang sekali angkot yang berkeliaran di kampus. Tapi, harapan itu masih ada (lho?). maksudku berharap ada angkot tak ada salahnya kan? Ku berjalan dari gedung perpustakaan Undip “Widya Puraya”. Aku bertekad kalau sampai nanti ngga ada angkot, berarti aku jalan kaki sampai ke kosku yang ada di jalan banjarsari. Kalo kamu anak undip pasti tau. Kalau bukan, aku kasih tau, jadi dari widya puraya sampai banjarsari lumayan jauh. Kurang lebih satu sampai satu setengah kiloan, pokoknya lumayan banget deh kalo jalan kaki. Lumayan bisa buat kaki begel – pegel, keringat bercucuran, dan sebagainya.
Tapi Alhamdulillah, ketika aku sampai di bundaran ex-Mandiri, (kalo yang anak Undip pasti tau, tapi kalo yang ngga tau, itu ya sekitar setengah kiloan deh..) tiba-tiba ada motor yang mendekatiku dan ngerem tepat di sampingku. Wah, akhwat nih.. Pengendara motor yang mbak-mbak akhwat itu membuka kaca helm-nya. Aku poikir-pikir sejenak.. sepertinya aku tidak kenal dengan sosoknya.
“Ayo dek, ikut..”
Saat itu aku ngga piker-pikir. Insyaallah aku percaya sama mbaknya.. insyaallajh identitas yang beliau pakai sudah cukup membangun kepercayaanku. Nggak tau juga tuh aku tanpa malu-malu, tanpa basa-basi langsung deh naik itu motor. Mungkin emang dasarnya udah capek jalan kali ya.. jadi ngga mikir tuh mbak ukhti itu mau menculikku atau membawaku ke tempat yang aku nggak tau.. hahaa.. #korban sinetron.
“makasih ya mba..” ya Cuma itu yang aku ucapin, dan itu aku ucapkan ketika aku sudah duduk manis di jok empuk motor mbak akhwat tadi.
“iya dek sama-sama.. wismanya mana?” sekali lagi kutuliskan, kalo anak Undip mah insyaallah tau wisma itu apa.. tapi bagi yang nggak tau, akan aku jelaskan. Jadi, wisma itu sebuah rumah kos-kosan berbasis pembinaan, khususnya pembinaan islam. Jadi ada wisma untuk ikhwan dan akhwat. Nah, di dalam wisma (khususnya wisma akhwat) penghuninya harus berjilbab. Satu wisma biasanya dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa satu fakultas, mungkin agar kultur belajarnya sama atau sejenis. Oke, cukup masalah wisma.
“saya di wisma Tsabita mba..”
Wah, sepertinya wismaku yang satu itu memang cukup terkenal di kalangan ikhwah. Eh engga ding, temen-temenku yang notabene anak gaul juga tau, kalo kos ku bernama wisma Tsabita. Siapa dulu yang mempopulerkan.. (emang siapa? Aku juga nggak tau.. hehe)
Ok, kenapa aku bisa bilang wismaku terkenal. Karena mbak – mbak akhwat tadi menurunkanku di persis pintu gerbang wisma ku.
“ok, jazakillah ya mbak..” itu yang aku ucapkan, ucapan terima kasih, saat aku turun dari motornya si embak tadi..
“ok, waiyyaki.. duluan ya dek..”
Soo..
Tuh kan, sebenernya masih banyak orang baik di dunia ini. Dan masih ada barang (mungkin tepatnya jasa) yang gratis. Tadi Cuma salah satu contoh aja. Dan aku yakin, kalian punya cerita masing-masing kan? Ini ceritaku, apa ceritamu?? ^^

Minggu, 21 Agustus 2011

Muhasabah di Tepi Jalan

Diposting oleh Anonim di 16.24 0 komentar
Di saat aku berada dalam kejenuhan di kota rantauan, sekaligus kota harapan, Semarang. Di saat keinginan pulang ke kampung halaman (bukan kampung juga si sebenernya) memuncak hingga mencapai titik kulminasi tertinggi, ada suatu hal yang mungkin tak dapat menghapus rasa rindu pada rumah, namun setidaknya aku bisa melupakannya sejenak. Dan yang pasti, dapat diambil suatu sisi positif yang menambah rasa syukurku pada Allah SWT.

6 Agustus 2011 - 6 Ramadhan 1432 H. Sore itu aku mengikuti agenda organisasi yang aku ikuti yaitu buka bersama anak-anak jalanan Satu Atap di Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Sebenarnya aku malas mengikutinya, karena hari itu, sejak pagi aku sudah kehilangan semangatku. Dari pagi setelah sahur, sakit maag-ku kambuh lagi dan badanku sedikit panas. Hmm, mungkin ini salah satu faktor yang membuatku benar-benar ingin berkumpul bersama keluarga di rumahku yang mungil namun penuh kebahagiaan, hehe.. Namun, 'yang punya hajat' mengajakku sampai aku benar-benar tak kuasa menolaknya. Okelah, akhirnya aku ikut. 

Buka bersama bersama anak jalanan. Ya, itu agenda kami sore itu. Selama ini banyak agenda buka puasa bersama yang aku ikuti. Mulai dari buka puasa angkatan, buka puasa bersama teman-teman satu perjuangan, dan buka puasa organisasi yang aku ikuti. oh iya, jangan lupa buka puasa rame-rame di Masjid Kampus atau berburu takjil gratis, hehe.. Namun, selama Ramadhan ini, belum pernah sekalipun buka puasa bersama keluargaku di rumah.. miris ya. tapi ya sudahlah, amanah ini memang harus dilakoni. nyatanya di Semarang aku mash dibutuhkan, (semoga saja begitu).

Ok, lanjut ke acara buka bersama anak jalanan. Seperti kita ketahui yah, rasanya males banget kalo di jalan kita diganggu anak – anak jalanan. Yang mengemis lah, yang ngamen dengan suara seadanya lah. Benar – benar tidak enak dilihat. Sebuah negara yang luas, kaya akan sumber daya alam, namun masyarakatnya tak terpenuhi kebutuhannya, masyarakatnya benar-benar dekat sekali dengan kemiskinan. Kita mempunyai berhektar – hektar sawah dan kebun, namun rakyatnya kelaparan. Kita mempunyai banyak manusia – manusia, yang eharusnya bisa jadi asset bangsa, namun apa yang kita lihat, manusia itu justru berebut kehidupan dengan yang lain. Tidak berketerampilan, tidak berpendidikan, tidak berperilaku yang baik, dan yang miris lagi tidak menanamkan agama dalam dirinya. Dan salah satu output akan berbagai masalah kompleks kita tersebut adalah maraknya anak – anak jalanan. Anak – anak yang hidup di jalan, bekerja di jalan, makan dari jalan, bahkan kadang bertempat tinggal di jalan. Jalan adalah kehidupannya. Mereka bangun pagi untuk mencari recehan hasil belas kasihan pengguna jalan. Sampai siang, sore, malam baru pulang. Mereka yang tak punya tempat tinggal, tidur beralaskan tanah, beratapkan langit, ditemani nyamuk – nyamuk dan dinginnya angin malam. Berbeda dengan anak – anak lain di seberang sana. Mereka bangun pagi untuk sekolah, pulang lalu bermain, ceria, tertawa, sorenya mereka mempunyai agenda les masing – masing, dan malamnya tidur dengan nyenyak di kasur empuk dan hangatnya selimut.

Dan kali ini, aku bersama mereka. Mereka yang hidup di jalanan itu. Mereka yang lusuh, kumal, dengan kulit gosong karena matahari, kaki yang tidak beralas, rambut tak kena sisir, dan kadang hidung yang ingusan. Namun ada satu yang membuat mereka istimewa. Keceriaan mereka, tawa mereka, senyum mereka. Polos. Unik. Dan ikhlas, sangat ikhlas dan apa adanya.

“Kak, gendong..” sahut anak perempuan kecil di belakangku.
Oh, tidak, aku yang selama ini tak punya adik, menjadi paling kecil dalam keluarga, yang biasa dimanja.. Sekarang, anak ini meminta gendong kepadaku. Tapi tak kuasa aku menolaknya. Peancaran matanya membuatku iba. Aku gendong dia. Lumayan berat, ya karena dia berusia lima tahun. Namun aku menikmatinya. Dia begitu dekat denganku, tak mau lepas dari gendonganku, bercerita banyak kepadaku. Namanya Rani. Usia lima tahun. Alhamdulillah, dia masih diberi kesempatan mengenyam pendidikan. Di duduk di TK nol besar. Dia pamerkan bahwa dia bisa menyanyi dengan menyanyi, masih digendonganku. Aku berpikir, dia begitu senang, dekat, padahal kami baru bertemu. Aku melihat, anak – anak ini memang kurang diperhatikan, kurang kasih sayang.

Aku senang berkenalan dengan mereka, dengan mereka yang menyebalkan di jalan. Yang mengemis – ngemis dengan kadang memaksa. Yang mengamen dengan suara sumbangnya. Bukan. Bukan keinginan mereka untuk mempunyai kehidupan seperti itu. Bukan pilihan mereka. Karena mereka tak punya pilihan lagi.

Berkaca dari mereka. Tubuhku lengkap tanpa kekurangan suatu apapun. Keluargaku pun lengkap dan sayang kepadaku. Dan Alhamdulillah, aku selalu diberi kemudahan dalam menggapai cita – citaku. Dan kini, bersyukur bisa menjadi seorang mahasiswa di Universitas Diponegoro, salah satu PTN yang kursinya diperebutkan orang se-Indonesia. Dan bersyukur karena hingga kini, aku tak perlu payah mencari uang untuk makanku. Bersyukur karena semua fasilitas itu kumiliki. Bersyukur karena aku bisa di sini. Bersyukur karena kau bisa berbagi. Bersykur karena aku dipertemukan dengan mereka. Bersyukur karena aku bisa berada dalam momen yang bisa membuat aku bersyukur.

Rabu, 03 Agustus 2011

iseng, ngga usah dibaca..

Diposting oleh Anonim di 23.29 0 komentar
Hidup memang penuh dengan masalah. Masalah yang akan membuatmu belajar, berfikir, bertindak, dan menjadi dewasa. Ya, walapun masalah itu menyebalkan, membuat kita jengkel, namun tanpa masalah apalah arti hidup kita. So flat. Bukan hidup jika tak ada masalah, jadi jika tak ingin ada masalah, nggak usah hidup !!

Dan kini aku dihadapkan pada suatu masalah. Oh, sebenarnya bukan masalah yang berarti, hanya aku yang terlalu dini untuk menerimanya. Ya, sampai saat ini aku merasa masih kecil. Masih terlalu kecil menerima amanah ini. Oh, aku ralat. Bukan aku yang masih kecil, namun belum dewasa, belum profesional, belum berkompeten, yang intinya belum pengalaman. Amanah ini terlalu berat bagiku. Bagiku untuk kuemban di punggung yang lemah ini, bagiku untuk kujinjing di tanganku yang ringkih ini, diselesaikan dengan otakku yang sebenarnya tak sampai. Maafkan aku bagi kalian yang mempercayaiku, namun sepertinya kalian kecewa denganku yang tak seperti yang kalian harapkan.. 
aduh ngomong apa sih ini aku?? aduh, ngacoo, ngga jelas banget.. 
Okelah, intinya amanah bukan beban. ketika kamu merasa amanah ini suatu yang berat, itu bukanlah sebuah masalah. itu hanyalah sebuah proses pembelajaran.. hadapi masalah, embanlah amanah dengan hati tenang dan pikiran jernih..
oke, welcome 'masalah' to my life.. keep spirit, keep smile, and fighting .. :)
 

live and life Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea